BLITAR – Olahraga tenis kini menjelma sebagai tren baru di kalangan masyarakat Kabupaten dan Kota Blitar.
Tak hanya sekadar olahraga, tenis mulai dilirik sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang menyenangkan.
Dampaknya, sejumlah pelatih tenis di Blitar mengaku kewalahan memenuhi lonjakan permintaan dari para peminat.
Frans Onggo, salah satu pelatih tenis di Kota Blitar menyebut, akhir pekan menjadi waktu tersibuk.
Dalam sehari, dia bisa melatih dari pagi hingga malam tanpa henti. Sebab, banyak masyarakat yang berminat dengan tenis dan meminta untuk dilatih olehnya.
"Weekend itu mulai jam 07.00 sampai 20.00, full. Kalau hari biasa, jadwal padat dari sore sampai malam," ujarnya, kemarin (22/7).
Onggo menyebut, peningkatan minat terhadap tenis bukan semata karena aspek olahraga, melainkan juga karena dianggap sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang elegan.
Apalagi selama beberapa tahun terakhir, tenis jadi simbol life style.
Olahraga yang bisa dinikmati sambil tetap menjaga kebugaran tubuh.
Fenomena serupa dirasakan Reza Kartika, pelatih tenis perempuan asal Blitar.
Dalam seminggu, dia bisa mengantongi penghasilan Rp 1 juta hingga Rp 2 juta hanya dari sesi latihan privat. Bahkan mayoritas muridnya anak muda.
Baca Juga: Cerita Sosok Pelajar Sekaligus Atlet Silat Muda asal Blitar Berprestasi di O2SN Jatim
“Sekarang tenis makin hits, apalagi sejak banyak artis yang juga ikut main tenis, sehingga banyak masyarakat yang mengikutinya," katanya.
Namun, lonjakan minat ini tidak dibarengi dengan ketersediaan fasilitas.
Beberapa pelatih seperti Antok dan Wanto bahkan terpaksa menolak calon murid karena keterbatasan lapangan tenis.
"Lapangan masih terbatas, sementara yang ingin latihan terus bertambah," ujar Wanto singkat.
Aprilia, warga Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, menjadi salah satu pemula yang tertarik mendalami tenis.
Ia mengaku, mulai serius menekuni tenis tahun ini. Dia bahkan mengeluarkan Rp 275 ribu per jam untuk latihan tenis, termasuk dengan pelatihnya.
Menurutnya, biaya latihan tenis bervariasi, mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu per jam, tergantung fasilitas yang diberikan.
"Tenis itu sulit tapi menyenangkan. Fisik dan mental benar-benar diuji. Tapi saya tidak ingin terjebak standar orang, yang harus begini atau begitu. Tentu yang penting saya nyaman dan senang olahraga," pungkasnya. (jar/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah