BLITAR - Dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa, nama Syekh Siti Jenar menjadi salah satu figur paling kontroversial. Ia dikenal karena ajaran spiritualnya yang menekankan hubungan langsung manusia dengan Tuhan, tanpa harus terikat pada ritual formal.
Pandangannya yang radikal membuatnya dianggap menyimpang oleh sebagian ulama, termasuk para Wali Songo yang menjadi otoritas agama pada masanya. Ia merupakan tokoh sufi yang menyebarkan agama Islam pada abad ke-16.
Siti Jenar hidup pada masa ketika Islam sedang berkembang pesat di tanah Jawa. Para Wali Songo menggunakan pendekatan budaya dan syariat untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat.
Namun, Siti Jenar menempuh jalan berbeda. Ia menekankan konsep manunggaling kawula Gusti, yang berarti penyatuan total antara hamba dengan Tuhan. Bagi Siti Jenar, Tuhan tidak berada di tempat yang jauh di langit, tetapi sudah ada dalam setiap jiwa manusia.
Ajaran ini membuatnya menilai bahwa ibadah seperti salat atau puasa hanyalah jalan awal menuju Tuhan. Ketika seseorang sudah mencapai pemahaman hakikat, ritual tersebut tidak lagi menjadi keharusan.
Pandangan ini dianggap berbahaya karena bisa menimbulkan pemahaman bahwa syariat tidak diperlukan. Inilah yang memicu konflik dengan para ulama pada masa itu.
Meski ajarannya dianggap kontroversial, Siti Jenar tidak menolak Islam. Ia tetap percaya pada Allah, Nabi Muhammad, dan Al-Qur’an.
Namun, ia mengajak orang untuk menggali makna terdalam dari ajaran agama, bukan sekadar menjalankan ritual tanpa kesadaran spiritual.
Bagi para pengikutnya, ajaran Siti Jenar membuka pintu untuk mengenal Tuhan secara langsung dan personal.
Baca Juga: Kuliner Sate Taichan Tertahan Nafsu Produksi Sepasang Sahabat asal Blitar Buat Ketagihan
Sejarah mencatat bahwa Siti Jenar akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh otoritas kerajaan dan ulama. Namun, pemikirannya tidak hilang.
Hingga kini, ajaran tentang manunggaling kawula Gusti masih menjadi bagian penting dalam spiritualitas Jawa, terutama dalam tradisi kejawen dan aliran kebatinan.
Kontroversi Siti Jenar menunjukkan adanya dinamika dalam proses Islamisasi di Jawa. Ia menjadi simbol pencarian kebenaran yang melampaui batas formalitas agama, meski harus dibayar dengan pengorbanan besar.
Sosoknya hingga kini dipandang dengan dua sisi: ada yang menganggapnya sesat, ada pula yang mengangkatnya sebagai guru spiritual besar.
Baca Juga: Mengikuti Jejak Adellia Putri Anjani, Duta Pemuda Antikekerasan Blitar, Apa Prestasinya?
Editor : M. Subchan Abdullah