Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengungkap Asal-Usul Tradisi Kejawen, Warisan Kepercayaan Kapitayan

Prima Suci Maharani • Kamis, 31 Juli 2025 | 19:00 WIB
Mengungkap Asal-Usul Tradisi Kejawen, Warisan Kepercayaan Kapitayan
Mengungkap Asal-Usul Tradisi Kejawen, Warisan Kepercayaan Kapitayan

BLITAR – Jauh sebelum kejawen dikenal luas sebagai tradisi spiritual masyarakat Jawa, Nusantara telah memiliki sistem kepercayaan yang lebih tua, yakni Kapitayan.

Agama ini menjadi pondasi awal dari praktik spiritual leluhur, bahkan sebelum masuknya agama Hindu, Buddha, dan Islam ke Indonesia.

Kapitayan tidak hanya sebatas keyakinan, tetapi merupakan cerminan cara pandang nenek moyang terhadap hubungan manusia, alam, dan Tuhan.

Kapitayan mengajarkan konsep ketuhanan melalui Sang Hyang Taya, yaitu entitas ilahi yang tak terlukiskan dan tak terbayangkan.

Berbeda dengan dewa-dewa dalam agama lain yang digambarkan dalam wujud tertentu, Sang Hyang Taya diyakini sebagai energi abstrak yang menyatu dengan seluruh alam semesta.

Dalam pandangan masyarakat Kapitayan, Tuhan hadir di setiap hembusan angin, gemericik air, hingga denyut kehidupan manusia.

Sejarah Kapitayan erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat agraris Nusantara.

Alam dianggap bukan hanya sebagai sumber penghidupan, tetapi juga sebagai manifestasi kekuatan spiritual.

Batu besar (watu), pohon raksasa, hingga mata air diyakini sebagai media yang menghubungkan dunia fisik dengan dimensi gaib.

Tak jarang, ritual dan sesajen dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada kekuatan alam.

Manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari tatanan besar yang harus dijaga keseimbangannya.

Baca Juga: Polisi Amankan Remaja Kota Blitar Usai Tertangkap Warga Begal Payudara Karyawan Minimarket

Nilai ini diwariskan secara turun-temurun, mengingatkan manusia untuk selalu selaras dengan alam dan energi spiritual di sekitarnya.

Meski kemudian ajaran Kapitayan berinteraksi dengan pengaruh Hindu, Buddha, hingga Islam, nilai-nilai inti agama ini tetap bertahan.

Bahkan, konsep harmoni dan penghormatan terhadap alam yang dipegang oleh masyarakat Jawa hingga kini diyakini berasal dari akar Kapitayan.

Kapitayan tidak hanya penting sebagai jejak sejarah kepercayaan leluhur, tetapi juga sebagai inspirasi spiritualitas modern.

Dalam era yang penuh kerusakan lingkungan, ajaran Kapitayan tentang keselarasan manusia dengan alam menjadi semakin relevan untuk kembali dipelajari.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Jejak Sejarah #kapitayan #Konsep Ketuhanan #alam semesta #kepercayaan #spiritual #agama #kejawen