BLITAR – Di antara banyaknya warisan kepercayaan leluhur Nusantara, Kapitayan menjadi salah satu pelopor sebelum masuknya kejawen serta agama besar lainnya.
Salah satu inti ajaran ini adalah keyakinan terhadap Sang Hyang Taya, sebuah konsep ketuhanan abstrak.
Berbeda dengan agama-agama besar seperti Hindu atau Islam yang mengenal Tuhan dalam wujud tertentu, Sang Hyang Taya justru dipahami sebagai kekuatan tak terlihat dan tak terlukiskan.
Sang Hyang Taya bukanlah sosok yang dapat dilihat atau diwujudkan dalam simbol.
Ia lebih dipahami sebagai energi universal yang hadir dalam setiap aspek kehidupan, dari alam semesta yang luas hingga kehidupan sehari-hari manusia.
Konsep ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak terpisah dari dunia fisik, melainkan menyatu dalam setiap elemen, termasuk manusia, hewan, tumbuhan, dan benda-benda di alam.
Dalam filosofi Kapitayan, manusia hidup di bawah harmoni energi Sang Hyang Taya. Setiap tindakan manusia diyakini memengaruhi keseimbangan energi alam semesta.
Oleh karena itu, masyarakat Kapitayan sangat menghargai keselarasan dengan alam, baik melalui ritual, doa, maupun tindakan sehari-hari seperti bertani dan berburu.
Semua aktivitas dilakukan dengan kesadaran spiritual yang mendalam.
Selain Sang Hyang Taya, Kapitayan mengenal konsep “Tu” atau “To”, yang menggambarkan kekuatan gaib yang meresap di setiap sudut alam semesta.
Konsep ini menegaskan bahwa seluruh ciptaan memiliki energi spiritual yang saling terhubung.
Batu, pohon, mata air, hingga angin diyakini mengandung “tu” yang harus dihormati melalui ritual dan sesajen.
Tidak ada yang terjadi di dunia tanpa alasan atau makna. Kesadaran ini menuntun masyarakat Kapitayan untuk bertindak dengan bijaksana, penuh rasa hormat, dan tanggung jawab terhadap alam semesta.
Baca Juga: Rak Supermarket Berjatuhan, Warga Panik Saat Guncangan Gempa Poso!
Editor : Anggi Septian A.P.