BLITAR – Masyarakat Kapitayan meyakini bahwa alam bukan sekadar lingkungan hidup, tetapi juga manifestasi kekuatan spiritual yang harus dihormati.
Kepercayaan ini mengakar dalam kesadaran bahwa alam adalah perwujudan energi Sang Hyang Taya, entitas ketuhanan yang tak berwujud.
Batu besar, pohon, dan mata air bukan sekadar objek fisik, melainkan media penghubung antara dimensi manusia dengan dimensi gaib.
Batu (watu), diyakini sebagai simbol kekuatan spiritual yang mampu menyimpan energi alam.
Dalam ajaran Kapitayan, batu yang dianggap memiliki energi sakral akan dihormati melalui ritual dan sesajen.
Hal serupa berlaku pada pohon besar, yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya energi gaib dan penopang kehidupan.
Pohon-pohon tertentu akan dijaga dan dirawat dengan penuh rasa hormat karena diyakini membawa keberkahan bagi lingkungan sekitarnya.
Mata air (tuben) juga memiliki kedudukan istimewa dalam kepercayaan Kapitayan.
Selain menjadi sumber kehidupan, mata air dianggap sebagai penghubung spiritual antara dunia manusia dan kekuatan gaib.
Masyarakat Kapitayan sering menggelar upacara penghormatan di mata air sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia alam.
Ajaran Kapitayan menekankan bahwa manusia adalah bagian dari tatanan alam yang lebih besar.
Setiap tindakan manusia, sekecil apa pun, diyakini memberi pengaruh terhadap keseimbangan energi di alam semesta.
Kehidupan sehari-hari masyarakat Kapitayan juga dipenuhi kesadaran spiritual ini. Ketika bertani, berburu, atau membangun rumah, mereka melakukan ritual penghormatan kepada alam.
Sesajen berupa makanan atau bunga dipersembahkan sebagai ucapan rasa syukur dan penghargaan terhadap energi gaib yang menjaga keseimbangan hidup.
Dalam konteks modern, ajaran Kapitayan mengingatkan seluruh umat manusia untukmenjaga alam.
Bukan hanya soal kelestarian ekologi, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap energi kehidupan.
Ketika kerusakan alam semakin marak, filosofi Kapitayan mengingatkan manusia bahwa keharmonisan hanya dapat terwujud melalui rasa hormat, kesadaran, dan keterhubungan dengan alam.
Editor : Anggi Septian A.P.