BLITAR – Tradisi kenduri dan selamatan merupakan bukti warisan dari ajaran Kapitayan yang masih Lestari hingga kini khususnya Pulau Jawa.
Agama asli Nusantara terus hidup dalam budaya masyarakat meskipun agama-agama besar telah datang.
Kenduri, yang identik dengan kebersamaan, doa, dan rasa syukur, memiliki akar kuat dalam kepercayaan Kapitayan yang menekankan keselarasan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.
Dalam tradisi Kapitayan, kenduri dilakukan untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, dan berkah dari Sang Hyang Taya.
Ritual ini biasanya melibatkan sesaji berupa nasi tumpeng, lauk-pauk, dan doa yang dipanjatkan bersama.
Bentuk tumpeng yang kerucut melambangkan gunung, simbol spiritual tertinggi dalam Kapitayan yang menggambarkan hubungan antara dunia manusia dan alam semesta.
Ketika Islam mulai berkembang di Pulau Jawa, tradisi ini tidak tetap beradaptasi.
Dalam Islam Jawa, kenduri menjadi bagian dari prosesi selamatan, misalnya dalam acara kelahiran, pernikahan, atau kematian.
Doa-doa Islam dibacakan sebagai pengganti mantra lama, namun esensi dari ritual kenduri tetap sama yakni sebagai bentuk ucapan rasa syukur.
Penghormatan terhadap leluhur dalam tradisi kenduri juga merupakan bagian dari ajaran Kapitayan.
Masyarakat Jawa percaya bahwa leluhur memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan.
Doa dan sedekah makanan dalam kenduri adalah cara untuk menghormati jasa mereka, sekaligus menjaga harmoni dengan alam dan dunia spiritual.
Seiring berjalannya waktu, kenduri menjadi simbol akulturasi budaya yang memperlihatkan bagaimana ajaran Kapitayan menyatu dengan nilai-nilai Islam.
Tradisi ini bukan hanya soal warisan masa lalu, tetapi juga sarana untuk memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat modern.
Kenduri mengajarkan kebersamaan, gotong-royong, serta penghargaan terhadap alam dan kehidupan. Melestarikan tradisi kenduri berarti menjaga warisan budaya Nusantara.
Editor : Anggi Septian A.P.