Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Soto Daging Ireng sampai Nasi Ampok: Kuliner Khas Blitar yang Unik, Enak, dan Anti-Mainstream!

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Jumat, 1 Agustus 2025 | 21:30 WIB
Kalau kamu termasuk pecinta kuliner yang bosan dengan menu itu-itu saja, mungkin saatnya kamu melirik kuliner khas Blitar. Kota kecil di selatan Jawa Timur ini ternyata menyimpan segudang rasa
Kalau kamu termasuk pecinta kuliner yang bosan dengan menu itu-itu saja, mungkin saatnya kamu melirik kuliner khas Blitar. Kota kecil di selatan Jawa Timur ini ternyata menyimpan segudang rasa

BLITAR - Kalau kamu termasuk pecinta kuliner yang bosan dengan menu itu-itu saja, mungkin saatnya kamu melirik kuliner khas Blitar. Kota kecil di selatan Jawa Timur ini ternyata menyimpan segudang rasa dan tradisi dalam sajian yang tidak umum dijumpai di daerah lain. Mulai dari soto berwarna hitam pekat sampai nasi dari jagung tumbuk, semua bisa kamu temukan di Blitar.

Alih-alih menyajikan makanan pasaran seperti ayam geprek atau mie instan kekinian, kuliner khas Blitar justru tampil berani dengan resep-resep otentik yang diwariskan turun-temurun. Ada soto daging ireng, yang kuahnya gelap nyaris hitam tapi justru bikin ketagihan, hingga nasi ampok, nasi jadul berbahan jagung yang kini kembali naik daun di kalangan pencinta makanan sehat dan tradisional.

Menjelajah kuliner Blitar berarti kamu juga ikut menggali sejarah dan budaya lokal. Tiap sajian punya cerita, bahan lokal, hingga cara penyajian yang khas. Berikut ini daftar kuliner anti-mainstream dari Blitar yang wajib kamu coba minimal sekali seumur hidup!

Baca Juga: Polisi Ungkap Pria Sebatang Kara Warga Kanigoro Blitar Membusuk di Kontrakan

Soto Daging Ireng: Hitamnya Bukan Karena Gosong

Kalau biasanya soto identik dengan kuah bening atau kuning, di Blitar ada yang beda: soto daging ireng. Ireng dalam bahasa Jawa berarti hitam, dan memang kuah soto ini berwarna gelap karena campuran kecap dan rempah-rempah tradisional yang dimasak lama hingga pekat.

Daging sapi yang digunakan dipotong besar-besar, dimasak empuk, dan disajikan dengan tauge, seledri, dan bawang goreng. Meski tampilannya tidak “fotogenik”, soal rasa soto ini justru bikin orang tak berhenti mengunyah. Gurih, manis, sedikit pedas, dan sangat kaya rasa.

Soto ini bisa ditemukan di beberapa warung legendaris Blitar seperti di daerah Sananwetan dan Wlingi. Satu porsi hanya berkisar Rp12.000 sampai Rp15.000—murah, unik, dan pastinya kenyang.

Baca Juga: Gas Melon Mulai Langka di Blitar, Disperindag-Pertamina Turun Lakukan Penelusuran

Nasi Ampok: Kembali ke Jagung, Bukan Beras

Pernah dengar nasi ampok? Makanan khas Blitar yang satu ini bukan nasi dalam arti harfiah, melainkan hasil tumbukan kasar jagung yang dikukus dan disajikan seperti nasi. Teksturnya sedikit kasar dan kering, tapi justru itulah yang membuat nasi ampok unik.

Biasanya, nasi ampok disajikan dengan sambal tomat segar, ikan asin, sayur rebus, dan kadang tempe goreng. Rasanya sederhana, tapi mengenyangkan dan cocok buat kamu yang ingin makanan rendah gula dan tinggi serat.

Dahulu, nasi ampok adalah makanan pokok warga desa Blitar yang belum mampu membeli beras. Namun kini, nasi ampok justru naik kelas menjadi menu sehat alternatif yang banyak diburu oleh wisatawan dan pegiat kuliner tradisional.

Baca Juga: Silsilah Kiai Legendaris Blitar: Gus Iqdam dan Jejak Pondok Mamba’ul Hikam Mantenan

Bukan Sekadar Makan, tapi Pengalaman Budaya

Apa yang membuat kuliner khas Blitar ini berbeda adalah pengalaman budaya yang menyertainya. Makan soto ireng atau nasi ampok bukan sekadar menyantap makanan, tapi juga menikmati proses dan cerita di baliknya. Resep yang dipertahankan selama puluhan tahun, bahan-bahan yang diambil dari kebun atau pasar lokal, hingga cara penyajian yang tidak berubah sejak zaman dahulu.

Bahkan, beberapa warung masih menggunakan tungku dan kayu bakar untuk menjaga rasa dan aroma makanan tetap seperti dulu. Ada rasa "rumahan" yang tidak bisa ditiru restoran modern atau franchise cepat saji.

Bagi wisatawan, mencicipi kuliner ini adalah cara paling cepat untuk memahami jiwa dan lidah masyarakat Blitar. Bagi warga lokal, makanan ini adalah bagian dari identitas dan nostalgia masa kecil.

Baca Juga: Bukan Anak Kota, Ini Perjalanan Gus Iqdam dari Desa Karanggayam hingga Jadi Figur NU Muda

Kuliner Tradisional Menantang Modernitas

Menariknya, meski tampil sederhana, kuliner ini tidak kalah eksis di era digital. Banyak food vlogger dan konten kreator yang mulai mengangkat soto ireng dan nasi ampok sebagai konten YouTube, Reels, maupun TikTok. Tak sedikit yang menyandingkannya dengan makanan modern untuk menunjukkan betapa istimewanya rasa khas dari Blitar.

Misalnya, akun TikTok @blitartaste sempat viral saat mengunggah perbandingan “Soto Ireng vs Ramen Jepang”, dengan kesimpulan bahwa soto ireng jauh lebih nendang di lidah orang Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa makanan tradisional bisa tetap relevan dan menarik asal dikemas dengan cara yang tepat.

Pemerintah daerah pun mulai sadar akan potensi ini dan mendorong promosi kuliner Blitar melalui festival, lomba masak, dan promosi UMKM. Tujuannya jelas: memperluas pasar dan mengenalkan kekayaan rasa Blitar ke tingkat nasional, bahkan internasional.

Baca Juga: Kenapa Dipanggil Gus? Gus Iqdam Beberkan Rahasia Garis Keturunan Kiai Zubaidi

Saatnya Berani Coba yang Beda

Buat kamu yang suka jalan-jalan sambil kulineran, jangan cuma cari makanan yang estetik atau viral di medsos. Kadang, makanan dengan tampilan sederhana justru menyimpan rasa yang tak tergantikan—seperti kuliner khas Blitar ini.

Jadi, kalau kamu ke Blitar, pastikan mampir ke warung soto ireng atau pesan seporsi nasi ampok. Bukan hanya bikin kenyang, tapi juga bikin kamu pulang dengan pengalaman yang membekas di lidah dan hati.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Ayam lodho #kuliner khas blitar #nasi pecel