Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ayam Lodho: Masakan Empuk yang Butuh 2 Jam Masak, Worth It Banget!

Findika Pratama • Sabtu, 2 Agustus 2025 | 21:30 WIB

Ayam Lodho: Masakan Empuk yang Butuh 2 Jam Masak, Worth It Banget!
Ayam Lodho: Masakan Empuk yang Butuh 2 Jam Masak, Worth It Banget!

BLITAR - blitarkawentar.jawapos.com – Dalam era serba cepat seperti sekarang, masih adakah yang rela menunggu dua jam demi satu porsi makanan? Ternyata masih, terutama untuk hidangan khas Jawa Timur yang satu ini: ayam lodho. Masakan tradisional ini kembali naik daun setelah banyak netizen—termasuk food vlogger Ririn Jaelani—mengunggah proses memasaknya yang panjang tapi bikin penasaran.

Ayam lodho, kuliner khas Blitar dan Tulungagung, dikenal dengan tekstur daging yang sangat empuk dan kuah santan gurih nan kaya rempah. Tapi untuk mencapai rasa yang maksimal, waktu masaknya pun tidak bisa instan. Ririn Jaelani dalam salah satu unggahannya mengatakan bahwa memasak ayam lodho idealnya membutuhkan waktu 2 jam dengan api sedang. "Prosesnya lama, tapi begitu suapan pertama masuk ke mulut... Masyaallah, worth it banget," tulisnya.

Keyword "ayam lodho" bahkan sempat masuk dalam jajaran pencarian terpopuler di TikTok dan YouTube, bukan hanya karena hasil akhirnya yang menggoda, tetapi juga karena proses memasaknya yang begitu sabar dan telaten. Di tengah tren makanan cepat saji dan resep instan, justru ayam lodho hadir sebagai antitesis yang memikat hati para pecinta slow cooking dan rasa otentik.

Baca Juga: Gas Melon Mulai Langka di Blitar, Disperindag-Pertamina Turun Lakukan Penelusuran

Bukan Cuma Masakan, Tapi Pengalaman

Menurut Ririn Jaelani, ayam lodho bukan hanya tentang rasa. “Ini bukan masakan sehari-hari biasa. Ini adalah ritual kecil yang membawa kita mengenang dapur ibu, nenek, atau kampung halaman,” ungkapnya. Dimulai dari membakar ayam kampung sebentar agar aromanya lebih keluar, kemudian ditumis dengan bumbu halus lengkap dari bawang merah, putih, kemiri, kunyit, dan rempah lain—hingga akhirnya dimasak dalam kuah santan selama dua jam lebih.

Jenis ayam yang digunakan pun bukan sembarang ayam. Ayam kampung yang tua justru dipilih karena dagingnya lebih padat dan menyerap bumbu dengan sempurna. Proses masak yang lama akan membuat daging ayam benar-benar lodho—yang dalam bahasa Jawa berarti sangat empuk, hingga mudah disobek hanya dengan sendok.

Proses panjang ini bukan hambatan, tapi justru daya tarik tersendiri. Banyak netizen yang mengaku menikmati waktu memasak ayam lodho sambil mendengarkan podcast, mengobrol dengan keluarga, atau sekadar menikmati aroma dapur yang perlahan menguar sedap ke seluruh rumah.

Baca Juga: Bukan Anak Kota, Ini Perjalanan Gus Iqdam dari Desa Karanggayam hingga Jadi Figur NU Muda

Resep Warisan yang Kini Jadi Tren

Salah satu alasan mengapa ayam lodho kembali populer adalah karena meningkatnya minat terhadap masakan tradisional yang autentik dan minim rekayasa. Di tengah gempuran bumbu instan dan makanan cepat saji, ayam lodho tampil sebagai simbol kesabaran dan ketekunan dalam memasak.

“Masak ayam lodho itu kayak belajar hidup: sabar, telaten, dan hasilnya manis di akhir,” komentar akun @masakdirumah di salah satu video unggahan Ririn. Komentar tersebut mendapat ribuan likes dan mendorong diskusi tentang pentingnya melestarikan resep turun-temurun.

Tak sedikit pengguna media sosial yang kemudian mencoba memasak ayam lodho versi mereka sendiri di rumah. Ada yang mengikuti resep otentik, ada pula yang mencoba modifikasi seperti menambahkan petai atau mengganti santan dengan susu evaporasi. Tapi satu hal yang tak bisa dihindari: prosesnya tetap memakan waktu.

Baca Juga: Kenapa Dipanggil Gus? Gus Iqdam Beberkan Rahasia Garis Keturunan Kiai Zubaidi

Momen untuk Kembali ke Dapur Tradisional

Kini ayam lodho mulai kembali masuk dalam menu warung makan tradisional hingga restoran khas Jawa di kota-kota besar.

Beberapa UMKM kuliner dari Blitar pun ikut memanfaatkan tren ini untuk mempromosikan masakan khas daerahnya.

Ririn Jaelani menegaskan bahwa tren ini seharusnya tidak hanya berhenti di viral semata. “Saya harap orang-orang nggak cuma coba sekali karena ikut-ikutan, tapi juga mulai mencintai proses masak yang slow dan penuh makna,” ujarnya.

Baca Juga: Joko Kandung, Pahlawan Lokal Blitar yang Terlupakan: Jejak Perjuangan Melawan VOC Bersama Aryo Blitar

Worth It di Setiap Suapan

Saat ayam lodho akhirnya disajikan—dengan kuah santan kental, irisan daun bawang, dan taburan bawang goreng—semua proses selama dua jam terasa sebanding. Rasanya bukan hanya enak, tapi juga membawa kehangatan dan nostalgia. Disantap bersama nasi hangat, dan kalau suka pedas, bisa ditambah cabai rawit utuh, membuat makan siang atau malam jadi momen istimewa.

Ayam lodho mengajarkan satu hal penting: bahwa kelezatan tak selalu datang instan. Ada kalanya, rasa terbaik justru muncul dari proses yang panjang dan penuh cinta. Dan di tengah dunia yang serba cepat ini, mungkin ayam lodho adalah pengingat kecil untuk melambat, menikmati, dan bersyukur.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Ayam lodho #kuliner blitar