BLITAR - blitarkawentar.jawapos.com – Pernah mencicipi ayam lodho dan penasaran kenapa namanya terdengar unik? Di balik rasa gurih dan tekstur empuknya, ayam lodho menyimpan makna filosofis dari bahasa Jawa yang tak banyak diketahui orang. Tak hanya sekadar menu kuliner, ayam lodho ternyata menjadi simbol kehangatan dan kesabaran dalam tradisi memasak Jawa Timur.
Menurut Ririn Jaelani, food content creator yang kerap mengangkat masakan daerah, “lodho” dalam bahasa Jawa memiliki arti sangat empuk atau lunak. Nama ini bukan asal tempel, tapi merujuk langsung pada hasil akhir dari proses masaknya yang panjang dan telaten—di mana ayam kampung dimasak dalam kuah santan rempah selama dua jam hingga benar-benar empuk menyeluruh.
Dalam salah satu videonya, Ririn menyebut ayam lodho sebagai contoh kuliner yang tidak hanya menggoda lidah, tapi juga membawa nilai kultural. “Ini bukan cuma ayam. Ada filosofi Jawa di baliknya: sabar, pelan-pelan, dan hasilnya luar biasa,” ujarnya. Maka tak heran jika ayam lodho kini kembali dilirik, bukan hanya karena rasanya, tetapi juga cerita di balik namanya.
Baca Juga: Gas Melon Mulai Langka di Blitar, Disperindag-Pertamina Turun Lakukan Penelusuran
Lodho: Empuknya Bukan Kebetulan
Kata “lodho” memang tak sering digunakan dalam bahasa sehari-hari, tapi di dapur-dapur Jawa Timur, istilah ini akrab di telinga. Ia menjadi istilah lokal yang menggambarkan tingkat keempukan suatu makanan, terutama daging. Dalam konteks ayam lodho, nama ini mewakili karakter masakan yang dimasak perlahan hingga teksturnya benar-benar lunak, tapi tidak hancur.
Ririn menjelaskan bahwa proses ini tidak bisa dilakukan secara instan. “Pakai ayam kampung, dibakar dulu sebentar biar aromanya keluar, lalu dimasak dengan santan cair dan kental bertahap. Total masaknya bisa dua jam lebih,” ungkapnya. Hasil akhirnya adalah ayam dengan daging yang lembut, bumbu meresap, dan kuah gurih yang kaya rasa.
Menariknya, di beberapa daerah, ayam lodho juga dianggap sebagai makanan sakral yang biasa disajikan dalam acara penting seperti tasyakuran, slametan, atau hajatan keluarga. Hal ini menandakan betapa dalamnya akar budaya dari masakan ini.
Baca Juga: Silsilah Kiai Legendaris Blitar: Gus Iqdam dan Jejak Pondok Mamba’ul Hikam Mantenan
Kuliner sebagai Cermin Bahasa dan Budaya
Sebagai bagian dari warisan kuliner Nusantara, ayam lodho bukan hanya menarik dari sisi rasa, tapi juga memperlihatkan bagaimana bahasa dan budaya lokal menyatu dalam satu piring makanan. Filosofi di balik nama “lodho” memberi gambaran bahwa kuliner tidak sekadar soal bahan dan teknik, tapi juga nilai dan kebijaksanaan lokal.
“Bahasa Jawa itu kaya akan deskripsi rasa dan tekstur. Ada ‘alot’, ‘empuk’, ‘lodho’, ‘ngglegedek’. Nah, ‘lodho’ itu level tertinggi dari empuk,” terang Ririn sambil tertawa dalam salah satu sesi live cooking. Pengetahuan ini, menurutnya, penting agar generasi muda tak hanya bisa masak, tapi juga paham makna di balik apa yang mereka masak.
Hal ini sejalan dengan tren saat ini, di mana masyarakat mulai menunjukkan minat lebih besar terhadap kuliner tradisional, tidak hanya untuk dinikmati tetapi juga dipelajari nilai-nilainya.
Baca Juga: Pernah Malu Dipanggil Gus, Begini Cara Gus Iqdam Menebus Julukan Itu
Kearifan Lokal yang Patut Dirayakan
Viralnya ayam lodho di media sosial belakangan ini, terutama melalui video masak Ririn Jaelani dan Terede Zelani, membuka peluang lebih luas untuk memperkenalkan kekayaan budaya Blitar dan sekitarnya.
Makanan seperti ayam lodho membuktikan bahwa kuliner lokal bisa bersaing dan diapresiasi secara nasional, bahkan global, bila dikemas dengan cerita yang kuat.
Pemerhati budaya Jawa, Dwi Rahardjo, menyebut pentingnya menjaga makna lokal di balik masakan. “Bukan cuma enak, makanan seperti ayam lodho menyimpan kosakata, filosofi, bahkan cara hidup masyarakatnya. Ini penting untuk dilestarikan,” ujarnya dalam wawancara terpisah.
Baca Juga: Pernah Malu Dipanggil Gus, Begini Cara Gus Iqdam Menebus Julukan Itu
Dari Dapur Ibu ke Panggung Nasional
Kini, ayam lodho bukan sekadar hidangan khas yang disajikan di acara keluarga. Ia telah menjadi representasi rasa, tradisi, dan bahasa Jawa yang bisa dinikmati siapa saja. Ririn Jaelani berharap semakin banyak anak muda yang bukan hanya belajar resep, tetapi juga mengenal nilai budaya di balik masakan-masakan tradisional seperti ini.
“Masakan itu bisa jadi jembatan. Dari lidah ke hati, dari dapur ke sejarah,” tutup Ririn.
Editor : Anggi Septian A.P.