BLITAR – Di tengah huru-hara masyarakat yang masih sering memperdebatkan soal mayoritas dan minoritas, kepercayaan Sapta Dharma memberikan teladan nyata tentang toleransi beragama dalam kehidupan sehari-hari.
Ajaran Sapta Dharma sendiri mengedepankan nilai-nilai universal seperti kebaikan hati, ketulusan, dan penghormatan terhadap leluhur serta alam semesta.
Dalam praktiknya, mereka tidak mewajibkan keturunan mereka untuk mengimani ajaran secara mutlak sejak kecil, melainkan mengajarkan nilai-nilai budi pekerti terlebih dahulu.
Anak-anak harus tumbuh dalam keluarga yang mengajarkan tata cara menghargai keberagaman.
Anak-anak wajib diajarkan untuk tidak membenci perbedaan, tetapi melihatnya sebagai kekayaan yang harus dirawat.
Nilai-nilai keberagaman seperti ini bukan sekadar jargon dalam buku pelajaran Pancasila, tetapi benar-benar hidup dalam ruang keluarga mereka.
Ketika sang anak memilih mengikuti ajaran yang berbeda dari orang tua, orang tua disini berperan memberikan pengarahan tentang agama yang akan dituju selebihnya orang tua hanya mendukung penuh Keputusan sang anak.
Menariknya, prinsip toleransi ini juga mereka bawa ke luar rumah.
Banyak dari mereka aktif dalam kegiatan masyarakat lintas agama, ikut kerja bakti, kegiatan kemanusiaan, bahkan membantu korban bencana tanpa memandang latar belakang kepercayaan.
Keluarga ini bukan pengecualian di kalangan penghayat Sapta Dharma. Dalam ajaran mereka, tidak ada larangan menikah lintas keyakinan, selama masing-masing bisa menjaga spiritualitasnya.
Bahkan, prinsip “dakwah” mereka justru melalui keteladanan bukan ajakan.
Cerita ini menjadi cermin bahwa toleransi sejati bukan hanya semboyan, melainkan bisa dimulai dari ruang terkecil.
Editor : M. Subchan Abdullah