Jejak Sejarah Lahirnya Kepercayaan Sapta Dharma, Makna Sujud Menghadap Timur

Prima Suci Maharani • Dipublikasikan Senin, 4 Agustus 2025 | 01:30 WIB
Jejak Sejarah Lahirnya Kepercayaan Sapta Dharma, Makna Sujud Menghadap Timur
Jejak Sejarah Lahirnya Kepercayaan Sapta Dharma, Makna Sujud Menghadap Timur

BLITAR – Pada tahun 1952, seorang pria bernama Harjosopuro menjalankan ikatan batin spiritual yang menjadi titik balik dalam sejarah dari Kediri, Jawa Timur.

Perjalanan batin spiritual ini melahirkan kepercayaan baru yaitu Sapta Dharma. Harjosopuro bukan seorang tokoh agama, melainkan masyarakat biasa merasa terdorong melakukan sujud.

Di keheningan rumahnya, Harjosopuro duduk menghadap ke timur dan menundukkan diri ke tanah. Tak ada aturan doa tertentu, tak ada bacaan kitab, hanya keheningan dan getaran batin.

Ia tidak tahu mengapa ia bersujud, tapi setiap kali ia melakukannya, hatinya terasa ringan dan damai. Aktivitas ini ia jalani selama dua tahun penuh, tanpa nama, tanpa petunjuk, tanpa suatu komunitas.

Namun, pada 12 Juli 1954, Harjosopuro mengaku telah melihat sosok Semar dengan senyum teduh, berkuncung dan berhidung pesek, disertai tulisan “Sapta Dharma”.

Untuk pertama kalinya, praktik sujud yang selama ini ia jalani telah diberi nama. Dari pengalaman ini, lahirlah simbol utama Sapta Dharma dan pemahaman bahwa gerakan spiritualnya bukanlah halusinasi, melainkan petunjuk Ilahi.

Simbol semar dalam ajaran Sapta Dharma bukan tokoh pewayangan biasa, melainkan sanepo yaitu gambaran dari roh suci manusia.

Ia tidak memiliki gender, melambangkan kesucian dan kedekatan manusia dengan Tuhan. Bagi pengikut Sapta Dharma, sujud ke timur bukan berarti menyembah matahari, melainkan mengingat asal muasal manusia yang suci, menuju kesadaran Ilahi.

Ajaran ini tidak dibentuk lewat doktrin, melainkan dari pengalaman pribadi yang jujur dan murni.

Harjosopuro tidak mengklaim dirinya nabi atau pemimpin agama. Ia hanya membagikan kisahnya.

Lambat laun, warga sekitar tertarik dan mulai ikut sujud. Dari sinilah lahir komunitas penghayat Sapta Dharma, yang menjadikan keheningan, kesederhanaan, dan budi pekerti sebagai jalan menuju Tuhan.

Kini, ajaran yang tumbuh dari laku batin ini tersebar ke berbagai daerah di Indonesia. Sanggar-sanggar kecil berdiri bukan dengan megahnya gedung, melainkan lewat hati yang bersih dan niat tulus.

Sapta Dharma mengajarkan bahwa spiritualitas sejati dimulai dari pengenalan diri, kesucian batin, dan keberanian untuk mendengar suara Tuhan yang halus namun kuat di dalam jiwa manusia.

Editor : M. Subchan Abdullah
Sumber : YOUTUBE ERLANGGA
Jejak Sejarah budaya kepercayaan agama lokal tradisi