Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sujud Menghadap Timur, Ritual Suci Pada Kepercayaan Sapta Dharma

Prima Suci Maharani • Senin, 4 Agustus 2025 | 01:00 WIB
Sujud Menghadap Timur, Ritual Suci Pada Kepercayaan Sapta Dharma
Sujud Menghadap Timur, Ritual Suci Pada Kepercayaan Sapta Dharma

BLITAR – Salah satu praktik yang paling mencolok dalam ajaran Sapta Dharma adalah ritual sujud menghadap timur.

Bagi sebagian masyarakat awam, tindakan ini kerap disalahartikan sebagai penyembahan kepada sang surya. Namun, faktanya tidak demikian.

Menurut para penghayat Sapta Dharma, arah timur bukanlah objek ibadah, melainkan simbol yang bermakna. Timur merupakan arah terbitnya matahari sebagai lambang terang dalam kehidupan dan kesadaran.

Dalam filosofi Jawa, timur juga dianggap sebagai arah kelahiran, tempat di mana cahaya pertama muncul dan membawa pencerahan bagi jiwa.

Maka, sujud ke arah timur berarti kembali pada sumber cahaya batin, bukan menyembah matahari secara fisik.

Hal ini ditegaskan dalam pengalaman spiritual Harjosopuro, pendiri Sapta Dharma, yang tanpa sadar melakukan sujud menghadap timur selama dua tahun, jauh sebelum menerima simbol dan nama ajaran ini.

Ia tidak pernah menerima perintah untuk menyembah arah tertentu, melainkan mengikuti suara batin yang membawanya pada kedamaian saat bersujud.

Dalam praktiknya, sujud dalam Sapta Dharma dilakukan dengan penuh kesadaran dan ketulusan.

Tidak ada bacaan khusus atau mantra, melainkan hening yang mendalam sebagai bentuk penyatuan diri dengan Sang Pencipta.

Para penghayat percaya bahwa Tuhan tidak terikat arah mata angin, namun arah timur dipilih sebagai pengingat simbolis akan awal yang suci dan jernih.

Adapun simbol Semar yang kerap dikaitkan dengan ajaran ini juga menimbulkan kesalahpahaman.

Banyak yang mengira Sapta Dharma menyembah tokoh pewayangan Semar, padahal simbol tersebut hanyalah gambaran filosofis dari roh suci manusia.

Dari kesimpulan penjelasan ini, dapat dipahami bahwa Sapta Dharma tidak membawa paham sesat atau menyimpang.

Arah timur hanyalah lambang, bukan objek ibadah. Sujud bukanlah penyembahan pada ciptaan, melainkan upaya untuk kembali menyatu dengan Sang Pencipta.

Stigma dan tudingan miring kerap muncul karena kurangnya pemahaman dan toleransi terhadap kepercayaan lokal yang berkembang secara organik dari tanah dan budaya Nusantara.

Editor : M. Subchan Abdullah
#Jejak Sejarah #budaya #sejarah #sapta #khas jawa #agama #tradisi #Dharma #Kepercayaan Lokal #warisan leluhur