BLITAR – Dalam ajaran kepercayaan Sapta Dharma, salah satu simbol paling menonjol dan penuh makna adalah Semar.
Namun simbol ini seringkali menjadi sumber kesalahpahaman di mata masyarakat awam. Banyak yang mengira penghayat Sapta Dharma menyembah tokoh pewayangan Semar atau menganggapnya sebagai dewa.
Menurut penuturan para penghayat, Semar bukanlah tokoh dari dunia pewayangan sebagaimana yang dikenal masyarakat umum.
Dalam Sapta Dharma, Semar adalah sanepo, yaitu lambang simbolik dari roh suci manusia yang bersatu dengan kehendak Tuhan.
Simbol Semar pertama kali hadir dalam pengalaman spiritual Harjosopuro, sang pendiri Sapta Dharma. Dalam sebuah keadaan antara sadar dan tidak, ia melihat sosok Semar yang tersenyum dengan wajah khas berkuncung, berhidung pesek, dan tubuh pendek.
Di sekelilingnya muncul tulisan “Sapta Dharma.” Sejak saat itulah, simbol ini menjadi bagian penting dari identitas ajaran.
Namun, pemahaman tentang Semar di sini jauh dari citra pewayangan. Bagi para penghayat, Semar melambangkan sifat-sifat luhur yakni keheningan, kebijaksanaan, kesabaran, dan kesederhanaan.
Ia juga digambarkan tak memiliki jenis kelamin, karena mewakili esensi murni dari manusia yang belum terikat oleh kodrat duniawi.
Ini menegaskan bahwa ajaran Sapta Dharma lebih menekankan spiritualitas batin.
Simbol Semar tidak disembah. Ia hanyalah pengingat bahwa manusia sejatinya memiliki sisi suci yang tersembunyi di balik tubuh dan ego.
Dalam laku spiritual Sapta Dharma, tugas manusia adalah kembali menyatu dengan kesucian itu melalui sujud, hening, dan budi pekerti luhur.
Kesalahpahaman muncul karena masyarakat umum masih mengaitkan nama Semar dengan dunia pewayangan.
Sama seperti biksu dalam ajaran Buddha tidak menyembah patung, penghayat Sapta Dharma tidak menyembah Semar, melainkan menghormati makna yang dikandungnya.
Editor : M. Subchan Abdullah