BLITAR – Di tengah semakin terbukanya wacana tentang kesehatan mental, suara generasi muda menjadi kunci perubahan.
Di sebuah podcast Suara Berkelas, Raka, seorang pemuda yang membagikan kisah inspiratif tentang hidup dalam gelapnya trauma masa kecil, depresi, dan ADHD.
Namun kini, ia berdiri sebagai penggerak, menyuarakan pentingnya kesehatan mental dengan penuh keberanian.
"Aku tuh punya ADHD, Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Ini bikin aku beda dari orang lain. Susah fokus, otak rasanya chaos," ungkap Raka dalam sebuah podcast yang jujur dan emosional.
Tak hanya ADHD, Raka juga pernah mengalami depresi berat hingga merasa tak punya alasan untuk hidup.
Di masa lalu, isu kesehatan mental masih dianggap tabu. Apalagi di lingkungan tempat Raka tumbuh, stigma terhadap orang dengan gangguan psikologis begitu kuat.
“Waktu itu aku bingung harus cerita ke siapa. Rasanya malu banget. Bahkan aku sendiri menganggap diriku rusak,” katanya.
Namun yang membedakan Raka dengan banyak orang lain adalah keberaniannya untuk tidak diam.
Alih-alih memendam luka, ia memilih bersuara dengan suara yang mengguncang dan menyentuh. Ia tak hanya menceritakan kisahnya, tapi juga membangun ruang aman bagi orang lain.
Melalui platform wirausaha sosial yang ia rintis, Raka memberikan tempat bagi orang-orang yang juga mengalami trauma atau masalah mental untuk berkarya dan berdaya.
"Anak muda tuh punya luka, tapi juga punya suara. Kita enggak harus sembunyi terus,” katanya. Baginya, bicara soal luka bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian.
Langkah Raka memperlihatkan bagaimana generasi muda kini tak lagi takut bicara soal gangguan mental, luka batin, atau trauma.
Mereka menuntut ruang aman, sistem pendukung, dan edukasi publik.
Cerita Raka bukan hanya kisah pribadi ia menjadi suara kolektif dari generasi yang ingin perubahan. Melalui kisah Raka, jelas bahwa suara generasi muda dapat menjadi katalisator untuk revolusi kesehatan mental di Indonesia.
Editor : Anggi Septian A.P.