BLITAR – Tulungagung bukan hanya dikenal dengan keindahan berbagai pantainya, tetapi juga menyimpan kisah seorang tokoh legendaris yang pernah menguasai pasar rokok di Jawa Timur.
Dialah Soemiran Karsodiwirjo, pendiri rokok Reco Pentung, yang hingga kini namanya masih menggema dalam ingatan masyarakat.
Soemiran Karso dikenal sebagai pribadi yang tekun, spiritual, dan sangat menjunjung tinggi warisan budaya leluhur. Melalui perusahaannya, Reco Pentung, ia berhasil menciptakan merek rokok yang meledak di pasaran Jawa Timur pada masanya.
Konon, Reco Pentung pernah menjadi salah satu produk lokal yang mampu menyaingi rokok nasional.
Kini, jejak kejayaan itu tak hanya tinggal cerita. Di atas tanah miliknya seluas sekitar enam hektare di Jl. Mayor Sujadi No.120, Jepun, Kec. Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, berdirilah kompleks pemakaman megah bernama Reco Sewu.
Makam Soemiran Karso dibangun dengan peletakan batu pertama pada tahun 1990 dan peresmiannya berlangsung secara adat Jawa tahun 1995, dengan melibatkan sekitar 1.000 tokoh spiritual dan pertunjukan kesenian tradisional seperti kuda lumping hingga dadak merak.
Dua tahun kemudian, pada 21 Februari 1997, sang tokoh wafat dan dimakamkan di tempat tersebut bersama istrinya.
Yang membuat Reco Sewu unik adalah keberadaan ribuan arca Dwarapala penjaga spiritual yang menghiasi seluruh penjuru kompleks.
Total ada sekitar 2.898 arca, termasuk satu arca raksasa setinggi 9 meter, sebagai simbol spiritualitas dan pelestarian budaya Kejawen yang sangat dijunjung tinggi oleh Soemiran Karso.
Selain sebagai tempat peristirahatan terakhir, lokasi ini juga menjadi pusat ritual dan ziarah bagi keluarga serta pengunjung yang ingin "ngalap berkah" atau sekadar mengenang jasa beliau.
Beberapa tempat spiritual lainnya pun turut dibangun, seperti Palerman Nyai Roro Kidul dan Pesanggrahan Madya Nirwana, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu situs spiritual penting di Tulungagung.
Soemiran Karso tak hanya mewariskan produk, tapi juga nilai. Sosoknya menggambarkan bagaimana kejayaan ekonomi bisa sejalan dengan pelestarian budaya.
Lewat Reco Sewu, masyarakat dapat melihat langsung bagaimana spiritualitas, tradisi, dan kejayaan hidup disatukan dalam satu ruang warisan yang kaya makna.
Editor : Anggi Septian A.P.