BLITAR – Tak jauh dari deburan ombak Pantai Popoh, Tulungagung, berdiri sebuah kompleks pemakaman megah bernama Reco Sewu.
Nama ini merujuk pada keberadaan ribuan arca yang berdiri anggun mengelilingi area tersebut.
Lebih dari sekadar makam, Reco Sewu adalah situs spiritual dan budaya yang mengabadikan warisan Soemiran Karso tokoh pendiri rokok legendaris Reco Pentung.
Ketika pengunjung pertama kali memasuki area ini, mereka akan disambut oleh barisan arca Dwarapala, arca penjaga khas dalam tradisi Jawa dan Hindu.
Jumlahnya disebut mencapai 2.898 buah, membentang di sepanjang jalan menuju makam. Di bagian depan gerbang, berdiri arca dua kepala yang konon menjadi ikon spiritual tempat ini.
Kompleks Reco Sewu tidak dibangun dalam waktu singkat. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada tahun 1990 dan bangunan selesai secara bertahap hingga diresmikan secara adat pada 1995, dengan melibatkan ratusan paranormal dan kesenian tradisional seperti kuda lumping dan dadak merak.
Soemiran Karso kemudian wafat pada 21 Februari 1997 dan dimakamkan di lokasi ini bersama istrinya.
Tangga menuju makam berjumlah Sembilan melambangkan jumlah Wali Songo.
Arca terkecil berukuran 9 cm dan yang terbesar mencapai 9 meter, semua bermuatan spiritual yang dikaitkan dengan ajaran Kejawen dan tradisi lokal.
Selain area pemakaman, kompleks ini juga mencakup tempat-tempat sakral seperti Palerman Nyai Roro Kidul dan Pesanggrahan Madya Nirwana, tempat di mana masyarakat dulu sering melakukan ritual ngalap berkah, terutama pada malam Jumat Kliwon, Jumat Legi, dan Selasa Kliwon.
Namun, sejak pandemi COVID-19, intensitas kunjungan dan ritual mengalami penurunan drastis.
Reco Sewu berdiri bukan hanya sebagai tempat peristirahatan pribadi, tapi juga sebagai simbol kejayaan, spiritualitas, dan pelestarian budaya Jawa.
Masyarakat sekitar pun menjaga tempat ini bukan sebagai bentuk pemujaan, melainkan bentuk “nguri-uri budaya” merawat warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.
Editor : Anggi Septian A.P.