BLITAR – Dunia pendidikan Indonesia kembali mendapat sorotan setelah sebuah studi mengungkap fakta mencengangkan terhadap kemampuan literasi lulusan sarjana di Jakarta ternyata lebih rendah dibandingkan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Denmark.
Temuan ini menjadi pukulan keras bagi sistem pendidikan nasional yang selama ini sibuk memburu kuantitas gelar tanpa menjamin kualitas kompetensi dasarnya.
Data ini bukan berasal dari isu viral semata, melainkan disokong oleh hasil riset global yang dilakukan oleh lembaga seperti Piage dan PISA, yang secara konsisten menempatkan Indonesia di posisi bawah dalam hal literasi dan numerasi.
Sementara itu, negara-negara Skandinavia seperti Denmark justru berhasil menanamkan kemampuan dasar membaca dan berpikir kritis pada anak-anak sejak usia dini.
Di tengah kebanggaan Indonesia akan pencapaian pendidikan formal, jumlah lulusan sarjana yang meningkat tiap tahun fakta menyatakan bahwa seorang sarjana belum tentu menguasai keterampilan membaca yang efektif adalah peringatan keras.
Ini bukan lagi soal akses pendidikan, tetapi soal mutu dan relevansi isi pendidikan.
Permasalahan ini bukan hanya berdampak di dunia akademik, tetapi juga menciptakan konsekuensi luas dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Literasi yang lemah membuat masyarakat lebih rentan terhadap informasi palsu, sulit memahami instruksi teknis, serta gagal mengambil keputusan secara logis.
Jika hal ini terjadi dalam skala besar, kualitas demokrasi dan produktivitas bangsa ikut terancam.
Banyak pihak menilai akar persoalan ini terletak pada kurikulum yang tidak fokus membangun fondasi kemampuan dasar.
Sejumlah lulusan perguruan tinggi bisa jadi menguasai teori, namun tidak terbiasa membaca secara kritis, memahami teks kompleks, atau menulis dengan sistematis.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan kita belum mampu membangun mastery penguasaan terhadap literasi.
Fokus harus kembali pada pembangunan kemampuan dasar di semua jenjang, dengan mengedepankan evaluasi yang mengukur kemampuan nyata.
Kesenjangan literasi ini seharusnya menjadi cermin, bahwa kita tidak bisa lagi berpuas diri dengan angka kelulusan semata.
Kualitas adalah kunci. Dan kualitas dimulai dari kemampuan membaca, memahami, dan berpikir.
Editor : Anggi Septian A.P.