BLITAR – Di tengah semangat perubahan pendidikan melalui Kurikulum Merdeka, muncul sebuah ironi yang mengkhawatirkan.
Dalam laporan terbaru dari Kabupaten Buleleng, Bali, terungkap bahwa ratusan siswa SMP belum mampu membaca dan menulis.
Kurikulum Merdeka, yang diperkenalkan sebagai solusi untuk pembelajaran yang lebih kontekstual dan menyenangkan, justru tampak belum menyentuh akar persoalan pendidikan di Indonesia.
Alih-alih menjadi fondasi, Kurikulum Merdeka seolah melewati tahapan krusial yang belum tuntas.
Di tengah berbagai konten kreatif, asesmen formatif, dan metode pembelajaran yang fleksibel, fakta bahwa anak-anak di usia 12–14 tahun tak bisa membaca menjadi bukti lemahnya arah kebijakan.
Pendekatan yang terlalu idealistik kerap menjadikan sekolah sebagai tempat eksperimen kebijakan tanpa kesiapan sumber daya manusia.
Guru tidak dibekali kemampuan yang cukup untuk menyampaikan materi dasar secara efektif, sementara akses terhadap pelatihan dan literatur masih terbatas di banyak daerah.
Fakta bahwa ada anak yang berkata "Gua enggak bisa baca" saat diminta belajar dengan pendekatan budaya, menjadi sinyal nyata bahwa kurikulum belum menyentuh kenyataan hidup siswa-siswa Indonesia.
Padahal, literasi bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi fondasi dari segala bentuk pembelajaran lanjutan.
Kegagalan ini tentu bukan semata-mata salah kurikulumnya.
Namun, tanpa pemetaan kondisi lapangan yang akurat dan desain kurikulum yang menyesuaikan level kemampuan siswa secara umum, kurikulum sebagus apapun akan runtuh dalam implementasi.
Baca Juga: Kelurahan Klampok Blitar Masuk 5 Besar Nasional Program Pangan Aman, Ini Kata Pak Lurah
Pakar pendidikan telah lama mengingatkan pentingnya membangun sistem yang berlandas dari realitas lapangan.
Kini saatnya bagi pemerintah, khususnya Kemendikbudristek, untuk kembali mengevaluasi efektivitas Kurikulum Merdeka secara menyeluruh.
Perubahan besar harus dimulai dari penguatan kompetensi dasar baca, tulis, dan hitung sebelum melompat ke inovasi pembelajaran lanjutan.
Tanpa perbaikan pada fondasi pendidikan dasar, visi "merdeka belajar" bisa berubah menjadi "merdeka tanpa belajar".
Editor : Anggi Septian A.P.