BLITAR – Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kembali menyerukan pesan keras dan reflektif dalam sebuah video diskusi Raymond Chin dengan para pengusaha dan pelaku bisnis.
Dengan gaya bicara yang blak-blakan, ia menekankan bahwa kerusakan negara bukan hanya faktor kegagalan pemerintah dalam menjaga birokrasi, tetapi masalah kolektif seluruh rakyat terutama pengusaha.
"Kalau negara rusak, lu juga hancur, Bos," ucap Ahok tegas.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Ahok ingin mengingatkan bahwa dunia usaha tidak bisa diam dan apatis terhadap arah politik dan kebijakan negara.
Selama ini, banyak pelaku bisnis yang memilih bersikap netral atau tidak peduli terhadap dinamika pemerintahan karena menganggap itu bukan urusannya. Namun menurut Ahok, sikap seperti itu justru berbahaya.
Ia menjelaskan bahwa dalam situasi negara yang gagal baik dari sisi hukum, birokrasi, maupun stabilitas politik justru pengusaha menjadi pihak yang paling terdampak pertama.
Tanpa perlindungan hukum yang adil, siapa pun bisa diincar. Tanpa regulasi yang jelas, bisnis bisa ambruk kapan saja.
Dan tanpa kestabilan negara, tidak akan ada jaminan kelangsungan usaha.
"Lu bikin pabrik, tapi negara rusak, gimana bisa ekspor? Gimana bisa bayar karyawan? Gimana bisa hidup?" tanya Ahok, menggambarkan efek domino yang sangat nyata.
Lebih lanjut, Ahok mengajak para pelaku bisnis untuk tidak sekadar mengejar keuntungan pribadi, tetapi juga peduli pada keberlangsungan bangsa.
Baginya, pengusaha harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton atau bahkan oportunis dalam sistem yang rusak.
“Kalau semua orang baik mundur, yang berkuasa ya yang jahat. Dan kalau yang jahat pegang kuasa, kita semua babak belur.”
Pernyataan itu menyiratkan bahwa partisipasi dalam menjaga integritas negara adalah tanggung jawab kolektif, termasuk mereka yang ada di sektor swasta.
Pengusaha bukan hanya tulang punggung ekonomi, tapi juga agen perubahan sosial.
“Masih ada harapan. Tapi jangan bilang 'itu bukan urusan saya'. Karena kalau negara jatuh, enggak ada tempat buat sembunyi,” tegasnya.
Pesan ini menjadi refleksi penting di tengah tantangan sosial, ekonomi, dan politik yang kompleks.
Sebuah seruan agar kita tidak hanya fokus pada diri sendiri, tetapi juga berjuang bersama untuk menjaga keberlangsungan bangsa.(*)
Editor : M. Subchan Abdullah