BLITAR – Pemerintah Kabupaten Blitar kembali tancap gas meningkatkan daya saing angkatan kerja, Kamis (7/8/2025).
Yakni lewat pelatihan bertajuk Sang Kapten (Sertifikasi Angkatan Kerja Kompeten), menyasar para calon juru masak unggas. Mereka dibekali pelatihan, uji kompetensi, dan magang kerja.
Plt Kepala Disnaker Kabupaten Blitar, Antonius Nanang Adi Putranto mengatakan, kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen daerah untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia (SDM).
Terutama sektor kuliner yang menjadi tulang punggung ekonomi kreatif lokal.
"Ini selaras dengan visi misi bupati dan wakil bupati yang menempatkan pengembangan SDM sebagai prioritas utama. Maka, pelatihan ini bukan hanya untuk meningkatkan kemampuan memasak, tapi juga membuka akses kerja, wirausaha, hingga standarisasi kualitas," ujar Nanang.
Menurut dia, pelatihan yang digelar di lembaga pelatihan kerja (LPK) Ar Risalah, Kecamatan Sutojayan, ini berlangsung dari 7 hingga 26 Agustus 2025.
Rinciannya, pelatihan vokasi selama sembilan hari, dilanjutkan uji kompetensi bersertifikat BNSP pada 20 Agustus, lalu magang kerja lima hari di industri kuliner.
Sasaran utamanya adalah pengolahan masakan berbasis daging unggas mulai dari ayam, bebek, hingga puyuh. Apalagi, komoditas ini yang memang menjadi andalan kuliner Kabupaten Blitar.
"Dari 20 peserta, sebagian merupakan keluarga petani tembakau, dan sisanya dipilih dari 200 pendaftar. Menariknya, meski mayoritas perempuan, ada sepertiga peserta laki-laki. Ini mencerminkan antusiasme dan semangat kesetaraan gender," ungkapnya.
Nanang menyebut, setiap peserta nantinya akan mendapatkan fasilitas alat masak sederhana yang dapat digunakan untuk berwirausaha di rumah.
Meski terbatas, fasilitas ini diyakini cukup menunjang jika peserta ingin langsung membuka usaha setelah lulus pelatihan.
Disnaker berharap lulusan pelatihan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas pribadi, tapi juga menjadi lokomotif ekonomi lokal. Ketika mereka membuka usaha, otomatis akan menciptakan lapangan kerja dan menekan angka pengangguran.
Tujuan akhirnya adalah mendorong kemunculan chef lokal yang mumpuni, yang mampu mengolah bahan baku unggas menjadi menu siap saji berkualitas ekspor.
Mulai dari ayam ungkep, sup bebek, sate puyuh, hingga olahan beku.
"Kalau mereka lulus uji sertifikasi, maka sertifikat BNSP ini menjadi senjata penting. Bisa digunakan untuk melamar kerja, membuka usaha sendiri, hingga menjadi juru masak di industri makanan olahan. Bukan sekadar bisa masak. Tapi tahu higienitas, keamanan pangan, dan presentasi makanan,” pungkasnya. (jar/c1/ady) (*)
Baca Juga: Cara Unik Menikmati Kuliner Blitar: Ambil Sendiri, Makan Sepuasnya di Warung Makti
Editor : M. Subchan Abdullah