BLITAR – Kepemilikan rumah kini tak lagi menjadi ambisi utama bagi generasi muda. Tapi hari ini, ambisi itu perlahan memudar di mata generasi muda.
Generasi milenial dan Gen Z kini tak lagi menjadikan rumah sebagai prioritas utama. Sebaliknya, mereka lebih memilih investasi pada pendidikan, pengalaman hidup, dan kebebasan finansial.
Konser musik pun menjadi bukti nyata pergeseran ini. Penjualan tiket konser besar kerap ludes dalam hitungan menit, ini membuktikan bahwa anak muda tak ragu mengeluarkan uang untuk hiburan dan pengalaman emosional.
Di sisi lain, rumah yang harganya terus melambung justru semakin tidak diminati karena dianggap tidak sebanding dengan beban cicilan dan keterbatasan mobilitas.
Pergeseran ini bukan semata gaya hidup konsumtif. Generasi muda sedang menyusun ulang makna kesuksesan dan kebahagiaan.
Anak muda masa kini ingin menyeimbangkan pekerjaan, waktu pribadi, pendidikan, dan hiburan.
Kebutuhan akan fleksibilitas dan perkembangan diri juga mempengaruhi pilihan tempat tinggal.
Menyewa dianggap lebih efisien dan memberi kebebasan untuk berpindah lokasi sesuai kebutuhan kerja atau studi.
Rumah, dalam pandangan mereka, bukan lagi investasi utama melainkan beban yang menghalangi laju perkembangan pribadi.
Pola pikir ini menantang pemerintah dan pelaku industri properti. Program perumahan tidak lagi bisa bersandar pada asumsi lama bahwa semua orang ingin memiliki rumah.
Kini, pemerintah harus merespon perubahan preferensi ini dengan menyediakan solusi hunian fleksibel, strategis, dan selaras dengan gaya hidup baru generasi muda.
Di tengah dunia yang terus berubah, anak muda memilih investasi yang bergerak di bidang ilmu, jaringan, pengalaman, dan kebebasan.
Bagi mereka, rumah bukan tempat tinggal seumur hidup tapi hidup yang bermakna adalah rumah yang sesungguhnya.
Editor : M. Subchan Abdullah