Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Karnaval, Sedekah Bumi, hingga NTT: Sound Horeng Merambah Nusantara

Anggi Septiani • Kamis, 14 Agustus 2025 | 23:30 WIB

Dari Karnaval, Sedekah Bumi, hingga NTT: Sound Horeng Merambah Nusantara
Dari Karnaval, Sedekah Bumi, hingga NTT: Sound Horeng Merambah Nusantara

 

BLITAR – Fenomena sound horeng yang identik dengan dentuman keras dan panggung spektakuler kini tak lagi terbatas di Jawa Timur. Menurut laporan Tretan Universa di YouTube, sistem audio raksasa ini mulai diundang ke berbagai daerah di luar Jawa.

Tak hanya untuk hajatan atau pernikahan, sound horeng juga menjadi bintang utama di acara karnaval, sedekah bumi, hingga perayaan hari besar daerah. Bahkan, ada yang membeli set lengkapnya secara permanen demi bisa menggelar pesta meriah kapan saja.

Perkembangan ini menandai lonjakan popularitas sound horeng sebagai bagian dari hiburan rakyat yang merambah seluruh penjuru Nusantara.

Baca Juga: Reforma Agraria Serahkan 133 Hektar Lahan Perkebunan kepada Rakyat Blitar

Tretan Universa mencatat, awalnya sound horeng hanya populer di beberapa kabupaten di Jawa Timur seperti Blitar, Tulungagung, dan Kediri.

Namun, daya tariknya yang khas—dengan puluhan hingga ratusan speaker tersusun rapi membentuk tembok suara—membuatnya dilirik oleh panitia acara di berbagai provinsi.

Kini, operator besar menerima undangan hingga Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Baca Juga: Pemkab Blitar Mulai Sosialisasikan SE Gubernur Jatim Terkait Sound, Ini Tanggapan Pelaku Usaha

Tidak jarang, perjalanan menuju lokasi memakan waktu berhari-hari. Kru harus membawa peralatan seberat puluhan ton, lengkap dengan panggung, genset, dan sistem pencahayaan.

Logistik ini menjadi tantangan tersendiri, apalagi jika acara diadakan di wilayah yang jauh dari pusat kota.

Meski begitu, antusiasme warga di lokasi membuat semua lelah terbayar.

Baca Juga: Jejak Keagungan Majapahit di Candi Simping: Dari Arca Siwa Wisnu hingga Tirta Parakewa

Menariknya, beberapa daerah bahkan memilih membeli sound horeng secara permanen.

Tretan Universa menemukan satu contoh di NTT, di mana pemerintah daerah setempat mengalokasikan dana khusus untuk membeli satu set lengkap, termasuk peralatan cadangan dan mobil angkut.

Langkah ini dinilai lebih hemat untuk jangka panjang dibanding harus menyewa berulang kali.

Baca Juga: Jejak Keagungan Majapahit di Candi Simping: Dari Arca Siwa Wisnu hingga Tirta Parakewa

Harga satu set sound horeng tentu tidak murah. Untuk sistem kelas besar, investasinya bisa mencapai miliaran rupiah.

Namun, bagi daerah yang kerap menggelar festival atau perayaan adat, perangkat ini menjadi aset penting.

Selain memeriahkan acara, kehadirannya juga mendatangkan pedagang, wisatawan, dan meningkatkan ekonomi lokal.

Baca Juga: Jelang Karnaval Agustusan, Perajin Kostum Carnival di Blitar Justru Sebut Permintaan Sewa Malah Menurun Dampak Kebijakan Pemerintah Ini

Fenomena ini juga menciptakan kolaborasi unik. Beberapa operator dari Jawa Timur bekerja sama dengan penyelenggara lokal di luar daerah untuk berbagi peralatan dan kru.

Sistem ini memungkinkan transfer teknologi dan pengetahuan tentang tata suara yang optimal.

Tretan Universa mencatat, hasilnya adalah pertunjukan yang memadukan budaya lokal dengan teknologi audio modern.

Namun, ekspansi sound horeng juga membawa tantangan baru.

Isu perizinan, transportasi, dan penyesuaian budaya setempat menjadi faktor yang harus diperhitungkan.

Tak semua daerah memiliki toleransi yang sama terhadap tingkat kebisingan, sehingga koordinasi dengan warga menjadi keharusan.

Baca Juga: Jejak Keagungan Majapahit di Candi Simping: Dari Arca Siwa Wisnu hingga Tirta Parakewa

Meski begitu, dampak positifnya sulit diabaikan.

Selain menciptakan hiburan, sound horeng membawa kebanggaan tersendiri bagi daerah yang mampu menghadirkannya.

Bahkan, di beberapa tempat, kedatangannya disambut layaknya konser artis nasional.

Baca Juga: Misteri Ikan Sengkaring di Telaga Rambut Monte: Konon Bawa Azab Jika Diambil

Tretan Universa memprediksi, tren ini akan terus berkembang dalam lima tahun ke depan.

Dengan dukungan media sosial, setiap penampilan sound horeng dapat viral dan menarik perhatian daerah lain.

Dari karnaval desa hingga festival lintas pulau, dentumannya akan terus menggema di berbagai sudut Nusantara.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sound horeg #thimas alva