BLITAR - Dunia hiburan rakyat di Jawa Timur tak bisa dilepaskan dari fenomena sound horeg yang selalu mencuri perhatian. Salah satu nama besar di balik kesuksesan ini adalah Mas Brewok, pemilik usaha sound horeg yang kini memiliki 10 unit truk dan kru hingga 70 orang.
Berawal dari hobi mengikuti karnaval desa, Mas Brewok tak pernah menyangka sound horeg miliknya akan berkembang menjadi bisnis besar. Awalnya ia hanya membantu tetangga untuk memeriahkan acara, meminjamkan sound seadanya, dan bermain musik di tingkat RT.
Kini, perjalanan itu membawanya pada kesuksesan luar biasa. Dari modal kecil, Mas Brewok berhasil mengelola bisnis sound horeg yang tak hanya terkenal di Blitar, tapi juga merambah berbagai daerah di Jawa Timur. Nilai asetnya kini ditaksir lebih dari Rp1 miliar.
Baca Juga: Misteri Runtuhnya Candi Simping: Warisan Raden Wijaya yang Luluh Lantak
Mas Brewok mengaku ide awal membangun sound horeg muncul saat melihat antusias warga terhadap hiburan musik di acara karnaval. “Awalnya cuma seru-seruan, yang penting rame. Lama-lama orang mulai minta dibawain sound buat acara mereka,” ujarnya, dikutip dari KapanLagiDotCom.
Dari situ, ia mulai menabung untuk membeli peralatan lebih baik. Satu per satu, speaker, amplifier, dan aksesoris panggung ia lengkapi. Tak disangka, tawaran job mulai mengalir deras, bahkan hingga keluar kota.
Kini, jadwal tampil sound horeg Mas Brewok harus dipesan minimal setahun sebelumnya. Bahkan ada klien yang rela antre dua tahun demi mendapat giliran.
Perkembangan ini juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap sound horeg. Dahulu dianggap sekadar hiburan sederhana, kini menjadi bagian dari identitas budaya karnaval di desa-desa.
Setiap penampilan, Mas Brewok membawa 10 truk perlengkapan, lengkap dengan kru yang sudah terlatih. Mereka menyiapkan panggung, mengatur audio, dan menghibur ribuan penonton dengan musik khas yang menggelegar.
Tak hanya itu, musik andalan seperti lagu-lagu Peterpan, dangdut remix, hingga DC Pong-Pong menjadi ciri khas yang selalu ditunggu penonton.
Baca Juga: Jejak Ratu Boko di Rambut Monte: Dari Potongan Rambut hingga Sumber Mata Air Abadi
Tentu saja, kesuksesan ini tidak datang tanpa tantangan. Mas Brewok pernah mengalami momen sulit ketika peralatan rusak di tengah acara. “Pernah satu set speaker jebol gara-gara hujan deras. Tapi itu jadi pelajaran, sekarang semua peralatan kita cover lebih baik,” ungkapnya.
Selain itu, ada pula pro-kontra di masyarakat. Sebagian orang menganggap suara sound horeg terlalu keras dan mengganggu. Namun bagi penggemarnya, inilah hiburan yang tak tergantikan.
Mas Brewok pun selalu berusaha menyesuaikan volume dan durasi tampil agar tidak menimbulkan masalah di lingkungan sekitar.
Baca Juga: Jejak Ratu Boko di Rambut Monte: Dari Potongan Rambut hingga Sumber Mata Air Abadi
Kesuksesan Mas Brewok membuktikan bahwa sound horeg tak hanya soal musik keras, tetapi juga soal manajemen, kreativitas, dan kerja keras. Dari iseng di karnaval desa, kini menjadi usaha profesional dengan aset miliaran rupiah.
Ia berharap ke depan bisa memperluas jangkauan bisnisnya ke luar Jawa Timur, sekaligus memperkenalkan budaya karnaval desa yang khas.
“Buat saya, sound horeg itu bukan cuma pekerjaan. Ini bagian dari hidup saya, bagian dari budaya kita. Kalau orang senang dan terhibur, itu sudah cukup,” pungkas Mas Brewok.
Baca Juga: Misteri Ikan Sengkaring di Telaga Rambut Monte: Konon Bawa Azab Jika Diambil
Editor : Anggi Septian A.P.