Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pro-Kontra Sound Horeg: Hiburan Rakyat atau Gangguan Lingkungan?

Findika Pratama • Jumat, 15 Agustus 2025 | 02:30 WIB

Pro-Kontra Sound Horeg: Hiburan Rakyat atau Gangguan Lingkungan?
Pro-Kontra Sound Horeg: Hiburan Rakyat atau Gangguan Lingkungan?

BLITAR - Fenomena sound horeg di Jawa Timur selalu memancing perdebatan. Di satu sisi, dentuman musiknya menjadi hiburan rakyat yang mampu menyedot ribuan penonton.

Namun di sisi lain, kebisingan dari sound horeg memicu keluhan soal kerusakan properti, terganggunya kenyamanan warga, hingga larangan masuk di beberapa kota besar seperti Malang.

Dikutip dari KapanLagiDotCom, perdebatan ini semakin ramai di media sosial, dengan masing-masing pihak membawa argumen dan pengalaman pribadi.

Baca Juga: Jejak Ratu Boko di Rambut Monte: Dari Potongan Rambut hingga Sumber Mata Air Abadi

Bagi pendukungnya, sound horeg bukan sekadar audio berdaya besar, melainkan identitas hiburan rakyat. Acara karnaval desa, pesta pernikahan, hingga festival tahunan tak lengkap tanpa deretan truk berisi perangkat sound raksasa.

Penampilan sound horeg sering disertai pencahayaan warna-warni dan DJ lokal yang memutar lagu koplo remix hingga tengah malam. Suasananya meriah, bahkan disebut menjadi ajang silaturahmi dan promosi UMKM setempat.

“Kalau ada sound horeg, kampung jadi ramai, pedagang laris, anak muda juga punya hiburan,” ujar Rudi, warga Blitar, sambil tersenyum.

Baca Juga: Misteri Ikan Sengkaring di Telaga Rambut Monte: Konon Bawa Azab Jika Diambil

Namun, bagi pihak yang kontra, sound horeg kerap membawa masalah. Getaran bass yang kuat bisa membuat dinding retak, kaca rumah pecah, dan perabot bergoyang.

Selain itu, kebisingan hingga larut malam dianggap mengganggu warga yang ingin beristirahat. Keluhan ini membuat beberapa daerah menerapkan pembatasan, termasuk larangan tampil di area kota besar seperti Malang.

“Bukan anti hiburan, tapi tolong hargai yang butuh tenang. Volume-nya bisa diatur,” kata Siti, warga Malang, yang mengaku pernah tidak bisa tidur karena hajatan sound horeg di dekat rumahnya.

Baca Juga: Dari Tempat Keramat hingga Puing Batu: Mengapa Candi Simping Penting bagi Jati Diri Bangsa?

Larangan ini sempat memicu perdebatan panjang. Pihak penyelenggara menganggap aturan tersebut mengikis budaya hiburan rakyat. Sementara pemerintah daerah menilai langkah itu perlu demi menjaga ketertiban dan kenyamanan umum.

Beberapa komunitas sound horeg mencoba mencari jalan tengah. Mereka mengatur jam main maksimal, memilih lokasi jauh dari pemukiman padat, serta membatasi daya speaker agar tidak memicu kerusakan properti.

“Kalau mau bertahan, kita harus ikut aturan. Jangan sampai gara-gara ulah satu dua orang, semua kena imbas,” ujar Mas Brewok, pemilik salah satu armada sound horeg terbesar di Blitar.

Baca Juga: Puluhan Kecelakaan Terjadi di Perlintasan Sebidang di Blitar, KAI Terus Gencarkan Kampanye Keselamatan ke Pengguna Jalan

Meski begitu, tidak semua penyelenggara patuh. Masih ada event yang sengaja mencari lokasi dekat rumah warga untuk memamerkan ‘tenaga’ sound-nya. Video-video getaran kaca, botol air bergoyang, hingga pintu berderit sering diunggah ke media sosial sebagai bukti kehebatan.

Kondisi ini membuat perdebatan pro-kontra semakin panjang. Bahkan, ada wacana pembentukan regulasi tingkat provinsi untuk mengatur batas kebisingan dan prosedur izin bagi sound horeg.

Bagi komunitas pecinta sound horeg, regulasi itu dikhawatirkan akan membunuh kreativitas. Sementara warga yang kontra menilai aturan tegas adalah solusi terbaik.

Baca Juga: Rahasia Konstruksi Candi Simping: Bata Merah dan Batu Andesit yang Jadi Titik Lemah

Fakta bahwa sound horeg mampu menggerakkan ekonomi lokal membuatnya sulit dihapuskan sepenuhnya. Di sisi lain, potensi gangguan lingkungan dan kerusakan fasilitas umum juga tak bisa diabaikan.

Selama kedua pihak belum menemukan titik temu, pro-kontra ini tampaknya akan terus berlanjut.

“Yang penting ada kompromi. Hiburan boleh, tapi jangan sampai mengorbankan kenyamanan orang lain,” ujar seorang tokoh masyarakat di Blitar.

Baca Juga: Jejak Keagungan Majapahit di Candi Simping: Dari Arca Siwa Wisnu hingga Tirta Parakewa

Editor : Anggi Septian A.P.
#brewog audio #sound horeg