Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Operator Sound Horeng Tahan 3 Hari Hanya Tidur 1 Jam, Mirip Pendaki Everest

Anggi Septiani • Jumat, 15 Agustus 2025 | 00:30 WIB

Operator Sound Horeng Tahan 3 Hari Hanya Tidur 1 Jam, Mirip Pendaki Everest
Operator Sound Horeng Tahan 3 Hari Hanya Tidur 1 Jam, Mirip Pendaki Everest

Blitarkawentar.jawapos.com – Pekerjaan sebagai operator sound horeng ternyata bukan sekadar memutar musik dan mengatur volume. Bagi Mas Memet, operator andalan tim Brewok Audio, profesi ini pernah membawanya pada pengalaman ekstrem: tiga hari penuh hanya tidur satu jam.

Kisah ini terungkap dalam tayangan YouTube Tretan Universe, di mana Mas Memet bercerita santai namun penuh detail soal rutinitasnya. “Rekor saya, tiga hari enggak tidur, cuma tidur satu jam,” ujarnya. Kondisi itu terjadi saat musim karnaval, ketika jadwal acara padat dan persiapan dilakukan maraton.

Pengalaman itu membuat publik terkejut, bahkan pembawa acara menyamakannya dengan ketahanan fisik pendaki Gunung Everest. Bedanya, medan Mas Memet adalah jalanan kampung dan lapangan terbuka, ditemani dentuman khas sound horeng.

Begadang Demi Suara Sempurna

Mas Memet mengaku, jadwal padat biasanya dimulai dari malam sebelum acara. Ia dan tim harus melakukan setting peralatan, cek posisi truk, memastikan instalasi kabel aman, hingga mencari pengaturan suara terbaik untuk lokasi tersebut.

Cek sound horeng biasanya berlangsung hingga larut malam, bahkan kadang sampai pukul 11.00 siang berikutnya. Setelah itu, istirahat hanya sebentar sebelum berangkat ke lokasi acara. “Kalau karnaval, mulai dari pagi sampai malam lagi, terus lanjut ke acara berikutnya,” jelasnya.

Meski terdengar melelahkan, ia menganggap semua ini bagian dari komitmen. “Kalau operator capek, suara bisa kacau. Jadi harus tahan,” tambahnya.

Tidak Asal Nge-bass, Ada Aturan Mainnya

Banyak orang mengira sound horeng hanya mengandalkan volume besar tanpa aturan. Faktanya, setiap acara melalui koordinasi ketat. Panitia mengatur letak truk agar tidak langsung menghadap rumah warga yang rentan, terutama jika ada yang sakit.

Bahkan, jika ada warga yang kondisinya sensitif terhadap getaran, mereka biasanya diungsikan sementara. “Ini semua untuk menjaga kenyamanan. Kita enggak mau hiburan malah bikin masalah,” kata Mas Memet.

Pendekatan ini membuat hubungan tim sound dengan warga tetap harmonis, meski dentuman bass kadang cukup kuat untuk membuat kaca bergetar.

Tarif Fantastis dan Peralatan Mewah

Di balik kesan hiburan rakyat, bisnis sound horeng punya nilai ekonomi yang besar. Untuk skala menengah, tarif sewa bisa mencapai Rp 20–30 juta per acara. Sementara paket lengkap dengan truk, genset, dan lighting mewah dapat menembus Rp 2 miliar.

Beberapa klien bahkan memilih membeli peralatan sendiri. Menurut Mas Memet, ada pembeli dari NTT dan NTB yang memesan satu paket lengkap Brewok Audio agar bisa menggelar acara serupa di daerah mereka.

Biaya ini mencakup kualitas suara yang diatur presisi, tata cahaya yang memukau, dan daya tarik hiburan yang tidak kalah dari konser besar.

Dari Karnaval hingga Sedekah Bumi

Rangkaian acara sound horeng tidak hanya terbatas pada karnaval. Di beberapa daerah Jawa Tengah, peralatan ini menjadi pengiring tradisi sedekah bumi. Iring-iringan keliling dusun diiringi musik keras menjadi hiburan sekaligus momen kebersamaan warga.

Genre musik yang diputar pun beragam, mulai dari dangdut koplo, remix DJ, hingga slow bass. Semua disesuaikan dengan permintaan penyewa dan kebutuhan koreografi penampil. “Biasanya lagu disiapkan penyewa, kita hanya menyesuaikan volume dan kualitas,” ungkap Mas Memet.

Fleksibilitas ini membuat sound horeng bisa masuk di berbagai segmen acara, dari formal hingga pesta rakyat.

Kritik dan Tanggapan Santai

Meski populer, sound horeng kerap mendapat kritik. Ada yang menilai terlalu bising, meresahkan, atau berpotensi merusak pendengaran. Namun, Mas Memet menganggap hal itu wajar.

Menurutnya, sebagian besar kritik datang dari orang yang belum pernah melihat langsung prosesnya. “Kalau sudah tahu, mereka paham kalau kita ini diundang, bukan datang tiba-tiba,” tegasnya.

Selama tujuh tahun berkecimpung di dunia ini, pendengarannya tetap sehat. “Yang penting tahu aturan mainnya dan jaga telinga,” ujarnya.

Fisik dan Mental yang Diuji

Bekerja sebagai operator sound horeng tidak hanya menuntut keterampilan teknis, tetapi juga fisik dan mental yang prima. Mas Memet mengaku terbiasa mengangkat peralatan berat, berdiri berjam-jam, dan fokus pada detail suara meski dalam kondisi lelah.

Tekanan pekerjaan juga tinggi, apalagi jika ada gangguan teknis di tengah acara. “Kalau ada masalah, kita harus cepat tanggap. Enggak ada waktu panik,” katanya.

Kondisi ini membuatnya menghargai setiap waktu istirahat yang didapat, meskipun hanya sebentar.

Hiburan Rakyat yang Terus Berkembang

Fenomena sound horeng mencerminkan perkembangan hiburan rakyat yang semakin profesional. Dari sekadar panggung sederhana, kini hadir dengan teknologi audio dan visual setara konser besar.

Selain memberi hiburan, keberadaan sound horeng juga menggerakkan ekonomi lokal. Banyak UMKM memanfaatkan keramaian acara untuk berjualan, sementara kru lokal mendapat pekerjaan sebagai tenaga bongkar pasang.

Bagi Mas Memet, tiga hari tanpa tidur hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang di dunia ini. “Selama masih ada yang senang, saya akan terus jalan,” tutupnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sound horeg #thimas alva