BLITAR – Fenomena sound horeng kerap menjadi sorotan karena dentumannya yang menggetarkan telinga dan dada. Namun, di balik kemeriahannya, ternyata ada prosedur yang dijalankan oleh para operator demi menghormati kondisi warga sekitar.
Menurut penuturan channel YouTube Tretan Universa, sebelum sound horeng tampil di suatu acara, tim selalu melakukan musyawarah dengan panitia dan perwakilan warga. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada yang merasa terganggu, khususnya warga yang sedang sakit atau membutuhkan ketenangan.
Langkah koordinasi ini bahkan sampai pada tahap memindahkan sementara warga yang sakit ke lokasi yang lebih aman. Tujuannya jelas, agar sound horeng bisa tampil maksimal tanpa menimbulkan masalah kesehatan bagi orang lain.
Baca Juga: Pemkab Blitar Mulai Sosialisasikan SE Gubernur Jatim Terkait Sound, Ini Tanggapan Pelaku Usaha
Proses musyawarah ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum acara dimulai. Operator sound horeng akan mengukur lokasi, memperkirakan arah dentuman, dan memastikan jarak aman dari rumah-rumah yang dihuni lansia atau pasien sakit.
Tretan Universa menggambarkan, suasananya mirip seperti rapat desa, lengkap dengan pembahasan teknis penempatan speaker dan jam tampil. Keputusan diambil bersama agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Pendekatan ini menepis anggapan bahwa sound horeng hanya mementingkan hiburan tanpa memikirkan dampaknya. Justru, para operator berusaha membangun citra positif di tengah masyarakat.
Baca Juga: Petilasan Pra-Majapahit di Blitar: Rambut Monte dan Kisah Mbah Ronggo Sang Pembabat Pertama
Selain memindahkan warga sakit, panitia juga sering memberikan kompensasi. Bentuknya bisa berupa bantuan makanan, obat-obatan, atau biaya transportasi untuk keluarga yang terdampak.
Hal ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab sosial dari komunitas sound horeng. Bahkan, beberapa operator rela mengurangi volume dentuman jika dianggap terlalu berisiko bagi lingkungan sekitar.
Tretan Universa mencatat, sikap ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak warga yang justru menerima keberadaan sound horeng di acara-acara desa.
Baca Juga: Reforma Agraria Serahkan 133 Hektar Lahan Perkebunan kepada Rakyat Blitar
Koordinasi pra-acara juga membahas soal jam tayang. Biasanya, sound horeng baru dinyalakan menjelang malam dan berakhir sebelum subuh, sesuai kesepakatan bersama.
Jika ada keluhan dari warga selama acara berlangsung, panitia sigap menyesuaikan volume atau arah speaker. Proses ini sudah menjadi SOP tidak tertulis di kalangan pelaku sound horeng.
Dengan begitu, hiburan tetap berjalan, warga tetap tenang, dan citra komunitas pun terjaga.
Baca Juga: Berjualan Sejak 1975, Pedagang Kerupuk di Blitar Mampu Sekolahkan 4 Anaknya hingga Lulus
Meski demikian, tidak semua pihak mendukung. Ada sebagian warga yang tetap merasa terganggu walau sudah ada musyawarah sebelumnya.
Namun, menurut data lapangan, persentase penolakan semakin kecil dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa upaya komunikasi yang dilakukan para operator sound horeng membuahkan hasil.
Tretan Universa menyebut, hubungan baik antara komunitas dan warga menjadi kunci keberlangsungan budaya hiburan ini.
Baca Juga: Berjualan Sejak 1975, Pedagang Kerupuk di Blitar Mampu Sekolahkan 4 Anaknya hingga Lulus
Bagi sebagian masyarakat desa, sound horeng adalah bagian dari identitas acara hajatan. Suaranya yang menggelegar dianggap mampu mengundang lebih banyak tamu dan menambah semarak suasana.
Ketika koordinasi dilakukan dengan baik, dampak negatifnya dapat diminimalkan. Bahkan, kehadiran sound horeng sering membawa manfaat ekonomi bagi warga, mulai dari pedagang kaki lima hingga jasa sewa peralatan.
Inilah alasan mengapa prosedur musyawarah sebelum tampil menjadi hal penting.
Baca Juga: Membangun Karier Global dari Osaka: Kisah Perantau Indonesia Penerima Beasiswa Luar Negri MEXT
Tretan Universa menutup laporannya dengan pesan bahwa harmoni antara hiburan dan kenyamanan warga harus dijaga. Sound horeng boleh saja memecah keheningan, tetapi tidak boleh memecah kerukunan.
Komitmen untuk selalu berdialog, memindahkan warga yang sakit, dan memberi kompensasi adalah bukti bahwa komunitas ini tidak hanya mengejar dentuman keras, tetapi juga kepedulian sosial.
Dengan cara ini, sound horeng bisa terus menjadi bagian dari tradisi lokal tanpa menimbulkan konflik.
Editor : Anggi Septian A.P.