BLITAR - Di balik dentuman sound horeg yang menggelegar, ada satu hal yang selalu dinanti penonton: playlist khas Mas Brewok. Bukan sekadar musik pengiring, daftar lagu ini sudah jadi identitas dan ciri khas setiap penampilannya.
Dikutip dari KapanLagiDotCom, setiap show Mas Brewok hampir selalu memutar deretan lagu wajib, mulai dari hits Peterpan yang legendaris hingga DC Pong-Pong yang viral di TikTok. Kombinasi musik ini bukan hanya menghidupkan suasana, tapi juga membentuk “signature sound” yang bikin penonton langsung tahu, “Oh, ini pasti Mas Brewok.”
Fenomena ini membuat sound horeg Mas Brewok bukan sekadar hiburan audio, tapi juga pengalaman budaya pop yang merangkul semua generasi.
Baca Juga: Pemkab Blitar Mulai Sosialisasikan SE Gubernur Jatim Terkait Sound, Ini Tanggapan Pelaku Usaha
Mas Brewok mengaku, pemilihan lagu tidak asal-asalan. Semua dipilih berdasarkan pengalaman manggung dan respons penonton di berbagai daerah. “Peterpan itu kayak pembuka nostalgia. Begitu intro berbunyi, penonton langsung nyanyi bareng. Nah, DC Pong-Pong itu puncaknya, semua joget,” katanya sambil tertawa.
Selain dua nama besar itu, playlist khasnya juga memuat campuran lagu dangdut koplo, remix EDM lokal, hingga soundtrack sinetron yang familiar di telinga warga.
Menurut Mas Brewok, variasi genre inilah yang membuat penonton dari segala umur merasa terlibat.
Baca Juga: Misteri Runtuhnya Candi Simping: Warisan Raden Wijaya yang Luluh Lantak
Tidak hanya di Blitar, bahkan ketika manggung di kota-kota lain seperti Malang, Kediri, atau Tulungagung, setlist itu tetap dibawa. “Kalau enggak ada lagu-lagu itu, penonton bisa protes. Pernah tuh, waktu kita enggak bawa DC Pong-Pong, malah diminta nyalain lagi di akhir,” ujarnya.
Para kru sound horeg pun sudah hafal urutannya. Dari awal acara, mereka menyiapkan transisi mulus agar bass dan efek cahaya mendukung tiap pergantian lagu.
“Bukan cuma soal kerasnya sound, tapi suasana yang dibangun dari musik itu sendiri,” tambah salah satu operatornya.
Baca Juga: Pelukis Terkenal yang Dituduh Merusak Candi Simping, Fakta atau Fitnah?
Playlist ini juga punya efek sosial. Di beberapa desa, anak-anak kecil sampai orang tua hafal bagian-bagian lagu tertentu. Bahkan ada yang sengaja datang ke acara jauh-jauh hanya untuk menikmati momen favorit saat DC Pong-Pong diputar.
Di media sosial, potongan video saat playlist ini dimainkan sering viral. Penonton yang berjoget massal dengan ekspresi lepas menjadi daya tarik tersendiri bagi warganet.
Mas Brewok menganggap ini sebagai bukti bahwa musik punya kekuatan menghubungkan orang tanpa batas usia atau latar belakang.
Baca Juga: Jejak Keagungan Majapahit di Candi Simping: Dari Arca Siwa Wisnu hingga Tirta Parakewa
Meski begitu, playlist khas ini tidak kaku. Mas Brewok dan tim selalu memasukkan satu atau dua lagu baru setiap beberapa bulan untuk menjaga kesegaran.
Lagu-lagu trending di TikTok atau YouTube biasanya cepat masuk daftar, selama cocok dengan karakter sound horeg mereka.
“Prinsipnya, lagu harus punya beat yang bisa ‘ngangkat’ penonton. Kalau terlalu datar, kurang cocok,” jelasnya.
Baca Juga: Rahasia Konstruksi Candi Simping: Bata Merah dan Batu Andesit yang Jadi Titik Lemah
Fenomena ini membuat brand Mas Brewok tidak hanya dikenal karena kualitas sound horeg-nya, tetapi juga karena pengalaman musik yang konsisten dan memorable. Dalam dunia hiburan rakyat, konsistensi adalah kunci membangun penggemar setia.
Dengan kombinasi teknologi audio modern dan sentuhan budaya pop lokal, Mas Brewok telah menciptakan formula unik yang sulit ditiru.
Penonton datang bukan hanya untuk mendengar dentuman bass, tapi untuk merasakan momen ketika lagu-lagu itu mengalun di udara malam.
Baca Juga: Misteri Ikan Sengkaring di Telaga Rambut Monte: Konon Bawa Azab Jika Diambil
Ke depan, Mas Brewok berencana merekam playlist khasnya dalam format album live show. Ia berharap bisa membagikannya secara resmi ke penggemar yang ingin bernostalgia meski tidak bisa hadir langsung di acara.
“Buat saya, musik itu kenangan. Kalau orang dengar lagunya, terus ingat momen seru di acara kita, itu sudah lebih dari cukup,” tutupnya.
Editor : Anggi Septian A.P.