Blitarkawentar.jawapos.com – Fenomena sound horeng terus menarik perhatian, bukan hanya di Indonesia tapi juga sampai ke India, tepatnya di pedesaan Benggala Barat. Di wilayah ini, pertarungan sound system berlangsung meriah layaknya duel olahraga. Bedanya, bukan otot yang diadu, melainkan dentuman bass dan kekuatan speaker yang mengguncang dada.
Tradisi adu sound horeng di Benggala Barat lahir dari budaya desa yang penuh dengan semangat kolektif. Warga setempat menjadikan sound system sebagai simbol kebanggaan komunitas. Ketika dua desa bertemu dalam arena adu suara, suasana berubah menjadi euforia massal yang mengingatkan pada pertandingan sepak bola.
Tak hanya soal hiburan, sound horeng di pedesaan India ini juga berkaitan dengan identitas kultural. Setiap desa merasa gengsinya dipertaruhkan saat sound system mereka berhadapan dengan lawan. Semakin keras dan jernih dentuman yang dihasilkan, semakin tinggi pula kebanggaan warga yang hadir memberi dukungan.
Akar Budaya dari Festival Hindu
Fenomena perang suara di Benggala Barat tidak lahir begitu saja. Menurut laporan kedati demikian YouTube, tradisi ini berakar pada festival Hindu yang digelar setiap tahun. Pada acara tersebut, desa-desa biasanya mendirikan pandal, bangunan sementara tempat arca dewa ditempatkan.
Di sinilah suara musik keras mulai memainkan peran. Pandal yang dihiasi megah seringkali memutar musik dari pengeras suara untuk menarik perhatian. Dari lagu-lagu pujian dewa, nyanyian religi, hingga musik Bollywood, semuanya diputar dengan volume maksimal agar lebih banyak pengunjung datang.
Lama-kelamaan, kebiasaan ini menumbuhkan benih kompetisi. Desa yang satu ingin lebih ramai dari desa lain, dan cara tercepatnya adalah memutar musik dengan suara lebih keras. Dari sinilah, tradisi persaingan audio muncul secara organik.
Dari Hajatan ke Arena Pertarungan
Selain festival keagamaan, sound system juga berperan penting dalam hajatan pernikahan, karnaval, hingga acara desa lainnya. Operator audio yang disebut “musik box” mulai dikenal luas. Awalnya, mereka hanya bertugas mengoperasikan sound system sesuai kebutuhan acara.
Namun, selepas musim panen atau di hari biasa, perangkat audio sering menganggur. Pemuda desa pun mencari cara agar alat itu tidak sia-sia. Lalu tercetuslah ide menggelar kompetisi kecil-kecilan antar kampung. Dari sekadar hiburan iseng, ajang ini berubah menjadi pertarungan serius yang sarat gengsi.
Kini, adu sound system menjadi hiburan alternatif yang ditunggu-tunggu warga desa. Malam hari di lapangan terbuka, ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan duel speaker yang saling tembak suara. Bagi banyak orang, inilah pesta rakyat paling meriah.
Ekonomi dan Branding Sound System
Tradisi sound horeng di Benggala Barat juga memberi peluang ekonomi. Operator yang sukses memenangkan battle akan mendapatkan reputasi lebih tinggi. Dengan begitu, mereka berpeluang mendapat order lebih banyak untuk hajatan atau acara festival.
Ajang ini ibarat iklan gratis. Tim dengan sound system paling gahar akan dikenal luas dan dipercaya masyarakat. Tak jarang, popularitas mereka bahkan melampaui batas desa. Fenomena ini juga menguntungkan bagi toko elektronik dan bengkel audio lokal karena permintaan speaker rakitan terus meningkat.
Internet ikut mempercepat perkembangan budaya ini. Video kompetisi sering direkam lalu diunggah ke media sosial. Dari situ, fenomena sound battle pedesaan menjadi viral, bukan hanya di India, tapi juga sampai ke telinga penggemar audio di luar negeri.
Sensasi Penonton di Tengah Perang Bass
Bagi penonton, berada di arena perang suara adalah pengalaman yang unik. Mereka berdiri di tengah-tengah, diapit dua kubu speaker yang saling menghentak. Sensasi getaran tubuh, dentuman bass, dan sorakan warga menciptakan suasana yang sulit dilupakan.
Meski bagi orang luar hal ini bisa terasa bising atau kacau, bagi warga setempat justru menjadi sumber adrenalin. Anak muda, orang tua, hingga anak-anak tumpah ruah menyaksikan, menjadikan lapangan desa layaknya stadion penuh semangat.
Setiap kemenangan dirayakan layaknya trofi olahraga. Desa pemenang mendapat kebanggaan, sementara lawan yang kalah akan termotivasi untuk merakit sound system lebih kuat di laga berikutnya.
Kritik dan Polemik Kebisingan
Namun, fenomena sound horeng di Benggala Barat juga menuai kritik. Volume suara yang dihasilkan seringkali melampaui batas aman, bahkan mencapai lebih dari 100 desibel. Para ahli kesehatan mengingatkan risiko gangguan pendengaran, tinnitus, hingga kerusakan telinga permanen.
Selain itu, warga sekitar arena battle kerap mengeluhkan gangguan kenyamanan. Rumah mereka bergetar, jendela berdentum, dan waktu istirahat malam terganggu. Pemerintah India sebenarnya sudah menetapkan aturan ketat, melarang penggunaan pengeras suara di atas jam 10 malam.
Sayangnya, aturan itu sering dilanggar. Kasus bentrok antara polisi dan warga pernah terjadi ketika sound system dipaksa berhenti. Ini menegaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi isu sosial yang sensitif.
Antara Hiburan dan Identitas Desa
Terlepas dari polemiknya, perang suara tetap menjadi hiburan penting bagi masyarakat pedesaan Benggala Barat. Dengan akses terbatas pada hiburan modern, sound battle menjadi oase kegembiraan.
Lebih dari sekadar musik, ini adalah ajang perekat sosial yang mengikat desa lewat rasa kebersamaan. Dukungan warga, sorak sorai penonton, dan gengsi antar kampung menjadikan tradisi ini tetap bertahan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya lokal selalu menemukan cara untuk mengekspresikan diri, meski dengan medium sederhana seperti speaker dan ampli rakitan. Pada akhirnya, sound horeng di Benggala Barat menjadi simbol kegembiraan, persaingan sehat, sekaligus tantangan bagi regulasi dan kesehatan masyarakat.
Editor : Anggi Septian A.P.