Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Antara Budaya dan Kebisingan: Polemik Sound Horeng di Benggala Barat yang Picu Konflik

Anggi Septiani • Selasa, 19 Agustus 2025 | 22:30 WIB

 

Antara Budaya dan Kebisingan: Polemik Sound Horeng di Benggala Barat yang Picu Konflik
Antara Budaya dan Kebisingan: Polemik Sound Horeng di Benggala Barat yang Picu Konflik

Blitarkawentar.jawapos.com – Tradisi sound horeng di Benggala Barat, India, kini menuai pro dan kontra. Di satu sisi, ia dianggap sebagai hiburan rakyat yang sarat budaya. Namun di sisi lain, kebisingannya menimbulkan masalah kesehatan dan pelanggaran hukum.

Menurut laporan kedati demikian YouTube, kompetisi sound horeng sering berlangsung hingga larut malam. Warga menikmati euforia dentuman bass yang mengguncang tubuh. Tetapi, tidak sedikit juga yang mengeluh karena rumah bergetar dan telinga berdenging.

Polemik inilah yang membuat sound horeng menjadi fenomena unik sekaligus problematis. Antara tradisi dan aturan hukum, benturan kepentingan tak terelakkan.

Tradisi yang Sulit Dihentikan

Kompetisi audio ini berakar dari festival Hindu, terutama saat perayaan pandal. Setiap desa berlomba menghadirkan sound system paling keras untuk menarik perhatian pengunjung.

Tradisi itu kemudian berkembang menjadi ajang battle antardesa. Panggung besar dan speaker raksasa menjadi simbol gengsi masyarakat.

Meski sederhana, battle ini menghadirkan kebanggaan kolektif bagi warga. Menang dalam adu suara berarti menaikkan reputasi desa.

Hiburan Rakyat yang Menyatu dengan Budaya

Bagi warga pedesaan, sound horeng bukan sekadar lomba audio. Ia adalah wujud kebersamaan dan pesta komunal.

Ribuan orang berbondong-bondong datang tanpa tiket. Mereka rela berdiri di tengah dentuman bass demi mendukung tim desanya.

Atmosfer meriah membuat banyak orang sulit membayangkan malam desa tanpa kehadiran kompetisi ini.

Ketika Hiburan Berubah Jadi Masalah

Namun, semakin besar skala kompetisi, semakin besar pula dampaknya. Suara yang menembus ratusan meter membuat banyak warga tidak bisa tidur.

Beberapa orang mengeluhkan kesehatan terganggu, mulai dari sakit kepala, stres, hingga gangguan pendengaran. Anak-anak dan lansia jadi kelompok paling rentan terkena imbas.

Masalah sosial pun muncul ketika warga yang terganggu mencoba melawan arus budaya mayoritas.

Aturan Jam Malam yang Sering Dilanggar

Pemerintah India telah menetapkan aturan tegas soal penggunaan pengeras suara. Semua aktivitas wajib berhenti pukul 22.00.

Namun kenyataannya, banyak battle berlangsung hingga dini hari. Aparat kepolisian sering menerima laporan dari warga yang keberatan.

Di titik inilah konflik kerap meletus, antara aparat yang berusaha menertibkan dan massa yang ingin mempertahankan hiburan mereka.

Bentrok dengan Aparat

Beberapa video memperlihatkan bagaimana polisi berusaha membubarkan battle di tengah malam. Namun, langkah itu sering disambut penolakan keras dari penonton.

Kericuhan tak jarang terjadi, bahkan sampai ada kasus pelemparan batu atau bentrokan fisik. Kondisi ini memperlihatkan betapa kuatnya ikatan warga dengan tradisi sound horeng.

Benturan semacam ini menunjukkan bahwa masalah kebisingan sudah melewati ranah kesehatan, masuk ke ranah hukum dan ketertiban umum.

Polemik yang Membelah Opini

Bagi sebagian warga, sound horeng adalah simbol identitas desa yang harus dijaga. Mereka menilai aturan jam malam merampas ruang budaya masyarakat pedesaan.

Namun bagi kelompok lain, suara menggelegar itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaat. Mereka menganggap hiburan tak seharusnya mengorbankan kesehatan orang lain.

Dua kubu opini ini terus berselisih tanpa solusi yang benar-benar memuaskan semua pihak.

Upaya Solusi yang Belum Tuntas

Sejumlah komunitas mencoba mencari jalan tengah. Ada yang mengusulkan penggunaan peredam suara atau mengatur jadwal lebih ketat.

Beberapa desa juga mulai membuat kesepakatan internal agar battle berhenti sebelum tengah malam. Meski begitu, pelaksanaannya sering tidak konsisten.

Sementara itu, aparat tetap berpegang pada hukum formal yang berlaku. Inilah yang membuat gesekan sulit dihindari.

Antara Ekonomi dan Budaya

Polemik semakin rumit karena kompetisi ini juga menjadi ladang rezeki. Operator musik box dan penyedia sound system mendapat promosi besar lewat battle.

Popularitas mereka bisa mendatangkan job di acara pernikahan, pesta desa, atau festival lain. Sehingga, menghentikan sound horeng berarti juga memutus rantai ekonomi kreatif desa.

Dilema ini membuat banyak pihak ragu dalam mengambil keputusan final.

Kritik dari Aktivis Lingkungan dan Kesehatan

Aktivis lingkungan menyoroti pencemaran suara yang terjadi. Mereka menilai kebisingan ekstrem sama berbahayanya dengan polusi udara.

Sementara kelompok kesehatan mendesak adanya regulasi ketat karena dampak jangka panjang bisa fatal. Kerusakan pendengaran permanen menjadi ancaman serius.

Namun suara-suara kritik itu sering kalah oleh euforia hiburan rakyat.

Tradisi atau Bahaya?

Hingga kini, sound horeng tetap berlangsung dengan segala dinamika dan konfliknya. Di satu sisi, ia memperkuat kebersamaan dan menjadi simbol budaya desa.

Namun di sisi lain, ia melahirkan masalah sosial, kesehatan, hingga hukum. Polemik antara budaya dan kebisingan masih terus bergulir di Benggala Barat.

Pertanyaan besar pun muncul: apakah tradisi harus tetap dijaga apa pun risikonya, atau sudah waktunya dikendalikan demi keselamatan bersama?

Editor : Anggi Septian A.P.
#sound horeg #india