BLITAR - Siapa sangka, klinik terbesar di Kecamatan Sutojayan, DMP Klinik, berawal dari sebuah ruangan mungil mirip garasi berukuran 3x10 meter.
Pemiliknya, dr Diky Prasetya, memulai praktik bersama sang istri sejak 2013. Dengan tarif Rp 25 ribu, dia melayani pasien sepenuh hati tanpa memandang kondisi ekonomi.
“Kalau pasien datang pakai baju compang-camping, saya tetap layani. Kadang hanya bayar Rp 5 ribu. Prinsip saya sederhana, jangan sampai orang sakit malu datang berobat,” ujar dokter yang akrab disapa dr Diky, saat diwawancarai dalam podcast Radar Blitar TV.
Kunci keberhasilannya ternyata bukan pada tarif murah, melainkan pada pendekatan personal. Setiap pasien dianggap seperti saudara kandung sendiri.
“Kalau ada orang tua datang, saya anggap bapak saya sendiri. Kalau pasien muda, saya anggap adik sendiri. Jadi, saya melayani sebaik mungkin,” ungkap bapak dua putri ini.
Sentuhan hati itu membuat pasien semakin loyal. Dari yang awalnya hanya beberapa orang per hari, dalam empat bulan membeludak hingga 150 orang per hari.
Praktiknya pun berkembang menjadi DMP Klinik yang kini dikenal luas.
Nama DMP sendiri berasal dari singkatan Diky Maharani Prima, gabungan namanya dan sang istri yang menangani layanan kecantikan.
“Awalnya sederhana saja. Tapi dari situ kami ingin membuat brand klinik yang kuat, bukan sekadar tempat praktik mandiri,” katanya.
Perjalanan dr Diky tidak selalu mulus. Dia pernah menghadapi berbagai kendala, termasuk saat mencoba ekspansi ke Blitar Kota.
Namun, dia memilih tetap fokus membesarkan klinik di Lodoyo yang kini justru jadi rujukan masyarakat.
Baca Juga: Bukan Pariwisata, Candi Gambar Wetan Layak Jadi Pusat Edukasi Sejarah untuk Generasi Muda Blitar
Soal rezeki, dia punya filosofi unik. “Jangan dulu mikir untung. Yang penting tulus menyelesaikan masalah pasien. Rezeki itu sudah diatur yang di atas,” tutur pria kelahiran 1987 ini.
Kini, DMP Klinik tak hanya dikenal karena fasilitasnya yang modern, tetapi juga karena nilai kemanusiaan yang dipegang teguh pemiliknya.
Kisah dr Diky pun menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa sukses selalu berawal dari ketulusan dan kerja keras. (*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah