Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pentol Bakso Klampis Ireng di Blitar yang Menggugah Selera, Pemilik Ungkap Ada Cerita Pilu di Baliknya

Luqi Nur Zaimatil Fataah • Senin, 1 September 2025 | 22:10 WIB

BERKUALITAS: Proses produksi pentol di Bakso Klampis Ireng.
BERKUALITAS: Proses produksi pentol di Bakso Klampis Ireng.
 

BLITAR - Bakso merupakan salah satu kuliner yang digemari masyarakat dari semua kalangan.

Persatuan dari kuah yang berkaldu serta bola-bola daging selalu berhasil untuk menggugah selera.

Saat ini, kuliner bakso bisa ditemui mulai dari restoran sampai di pedagang kaki lima. Di tengah persaingan ketat kuliner bakso, Bakso Klampis Ireng milik Nur Hidayat tetap bertahan selama lebih dari dua dekade.

Ciri khas baksonya yang berani menjanjikan rasa, porsi, dan harga yang ramah di kantong pembeli, selalu berhasil membuat pelanggan kembali.

Di Kecamatan Bajang, Desa Njari, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar aroma gurih dari Bakso Klampis Ireng telah menjadi satu kesatuan dari keseharian warga sejak awal 2000-an.

Nur Hidayat, 57, sang pemilik, merintis usaha bakso ini bersama sang istri setelah perjalanan hidupnya membawanya kembali dari merantau di Bali.

Sebelum membuka usaha bakso ini, Nur sempat bekerja di Bali sebagai tukang. Namun, karena krisis moneter yang terjadi pada 1997-1998, membuatnya kehilangan pekerjaan.

Dia pun memutuskan untuk pulang kampung dan mencari peluang baru.

“Dulu saya pernah survei di daerah sekitar pasar Jombang, ada bakso kempot yang sangat laris manis. Dari situ, saya berkeinginan membuka warung bakso sendiri. Modalnya engga seberapa, awet dan enak,” ujar pria dua anak ini.

Sejak awal, Nur memegang prinsip bahwa harga terjangkau tanpa harus mengorbankan kualitas rasa.

Semua bahan baku yang dipakai untuk produksi selalu premium dan terjamin sehingga rasa dan mutu tetap terjaga.

Setelah beberapa tahun berjalan, perjalanan Bakso Klampis Ireng tak selalu mulus.

Sekitar 2008, isu perihal “bakso tikus” yang menimpa produk Nur membuat omset anjlok drastis, dari yang mula Rp 7 juta menjadi hanya Rp 400 ribu.

Di tahun 2010, Nur mulai membuat pentol sendiri, selain menghemat waktu dan tenaga untuk produksi pentol, lebih hemat biaya operasional.

Dan pada tahun 2017, dia juga membeli alat giling adonan sendiri, hingga membuat inovasi bakso frozen untuk memenuhi kebutuhan hajatan ataupun acara.

Meskipun tak pernah memasarkan secara online, strategi pemasaran dari mulut ke mulut yang diterapkan Nur terbukti ampuh.

Pesanan mengalir dari berbagai daerah seperti Karangkates, Kalipare, Ngantang, hingga Serang.

Pada musim ramai, Nur bisa memproduksi 1 kuintal daging per hari, tapi untuk sementara ini berkisar di angka 80 kilogram daging. (mg5/c1/ady)

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#bakso #blitar #aroma #talun #kuliner #selera #Bakso Klampis Ireng #pentol