Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Anxiety, Depresi, dan NPD: Tantangan Kesehatan Mental Generasi Z

Rahma Nur Anisa • Kamis, 4 September 2025 | 20:00 WIB
Generasi Z Indonesia mengalami peningkatan signifikan dalam kesadaran kesehatan mental.
Generasi Z Indonesia mengalami peningkatan signifikan dalam kesadaran kesehatan mental.

BLITAR KAWENTAR - Istilah seperti anxiety, depresi, hingga narcissistic personality disorder (NPD) semakin sering muncul di kalangan Generasi Z.

Namun, banyak orang tua maupun generasi sebelumnya masih kebingungan memahami arti dan dampaknya. Padahal, isu kesehatan mental kini menjadi perhatian global dan berpengaruh langsung pada dinamika keluarga, pendidikan, hingga dunia kerja.

Psikiater dr. Vivi Syarif dalam dialog bersama Helmy Yahya menjelaskan bahwa meningkatnya kesadaran anak muda soal kesehatan mental bukan berarti generasi sebelumnya bebas dari masalah serupa. Bedanya, kini informasi lebih terbuka, stigma berkurang, dan anak muda lebih berani mencari bantuan profesional.

Anxiety ditandai rasa cemas berlebih, jantung berdebar, keringat dingin, sulit tidur, hingga overthinking. Faktor pemicunya bisa dari media sosial, tekanan pekerjaan, relasi keluarga, maupun masalah finansial.

Depresi memiliki gejala lebih berat, mulai dari suasana hati murung, kehilangan motivasi, hingga gangguan fungsi harian seperti enggan beraktivitas atau makan. Menurut WHO, depresi tergolong gangguan serius yang dapat menghambat kehidupan pribadi dan sosial.

Sementara itu, NPD (Narcissistic Personality Disorder) adalah gangguan kepribadian di mana seseorang memiliki rasa kebesaran diri berlebihan, haus pujian, minim empati, dan kerap manipulatif.

Istilah populer seperti gaslighting sering dikaitkan dengan perilaku ini, di mana pelaku membalikkan fakta untuk menyalahkan orang lain.

Fenomena ini tak lepas dari pola asuh (parenting), trauma lintas generasi, hingga gaya hidup serba instan. Banyak orang tua masih menanggapi keluhan anak dengan jawaban “kurang ibadah” atau “kurang bersyukur”, yang justru memicu jarak emosional.

Pemerintah mulai menyoroti kesehatan mental sebagai isu serius, seiring meningkatnya kebutuhan layanan psikologi dan psikiatri. Masyarakat masih bergulat dengan stigma, meski kini semakin banyak anak muda yang terbuka membicarakan terapi dan konseling. Akademisi/pengamat menilai faktor sosial—seperti relasi keluarga dan lingkungan kerja—menjadi pemicu utama kecemasan dan depresi pada Gen Z.

Dampak sosial–ekonomi–politik: meningkatnya kesadaran mental health mendorong lahirnya layanan konseling online dan kebijakan perusahaan terkait work-life balance. Namun, tantangan muncul berupa risiko romantisasi isu mental health, ketika istilah seperti “burnout” atau “healing” digunakan secara berlebihan.

Kesehatan mental kini bukan lagi isu pribadi, melainkan tantangan bersama lintas generasi. Memahami anxiety, depresi, dan NPD membantu orang tua, pendidik, hingga pemimpin perusahaan berkomunikasi lebih efektif dengan generasi muda.

Dengan kombinasi edukasi, dukungan sosial, dan kebijakan yang berpihak, kesehatan mental dapat menjadi pondasi penting dalam membangun generasi produktif dan resilien di masa depan. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#NPD #anxiety #gaslighting #kesehatan mental #Narcissistic Personality Disorder #Gen Z #depresi