BLITAR-Masjid Ar-Rahman di Jalan Ciliwung Nomor 2, Bendo, Kepanjen Kidul, Kota Blitar, tak hanya dikenal dengan arsitektur ala Madinah. Salah satu daya tarik terbesarnya ada di halaman masjid, yakni keberadaan sepuluh payung raksasa yang menjulang megah.
Payung-payung ini menjadi ikon baru sekaligus spot favorit jamaah. Setiap akhir pekan, halaman masjid dipadati pengunjung yang ingin berfoto di bawah payung, terutama saat sore hari ketika cahaya matahari berpadu dengan lampu hias.
Tidak sedikit yang menyebut suasana di Masjid Ar-Rahman mirip dengan pelataran Masjid Nabawi di Madinah.
Mirip Payung Masjid Nabawi
Sepuluh payung raksasa di halaman Masjid Ar-Rahman memang dirancang menyerupai payung ikonik di Masjid Nabawi. Warnanya putih elegan dengan tiang-tiang kokoh berornamen emas.
Saat cuaca terik, payung berfungsi melindungi jamaah dari panas. Ketika hujan, payung tetap berdiri tegak memberi kenyamanan.
“Kalau lihat dari foto, banyak yang mengira ini di Madinah, padahal di Blitar,” ujar Rina, pengunjung asal Tulungagung.
Spot Foto Favorit Jamaah
Selain untuk fungsi praktis, payung raksasa ini juga menjadi magnet wisata religi. Hampir semua jamaah yang datang menyempatkan berfoto di bawahnya.
Ada yang berpose sendiri, bersama keluarga, bahkan komunitas. Foto dengan latar payung megah ini sering berseliweran di media sosial.
“Kalau sudah ke sini, belum lengkap rasanya kalau belum foto di payung raksasa,” kata Ahmad, pengunjung asal Kediri.
Baca Juga: Meningkatkan Kesadaran Kesehatan, Masjid Ar Rahman Adakan Cek Kesehatan Gratis
Suasana Sore Paling Ditunggu
Momen paling ditunggu jamaah adalah saat sore menjelang magrib. Cahaya senja yang keemasan memantul di payung raksasa, menciptakan suasana indah.
Ketika malam, lampu-lampu di sekitar masjid menyinari payung hingga tampak berkilau. Suasananya menambah kekhusyukan sekaligus kenyamanan bagi jamaah yang menunggu waktu salat.
“Kalau sore, adem sekali. Duduk di bawah payung sambil ngopi dari sajian gratis masjid, rasanya damai,” ujar Siti, jamaah asal Blitar.
Payung dan Filosofi Keterbukaan
Selain memperindah masjid, keberadaan payung raksasa punya makna filosofis. Payung melambangkan keterbukaan, perlindungan, dan persaudaraan.
Masjid Ar-Rahman ingin hadir bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang publik yang nyaman untuk semua kalangan. Dengan payung raksasa, jamaah bisa berinteraksi, beristirahat, atau sekadar bercengkerama.
Pusat Aktivitas Jamaah
Halaman dengan payung raksasa kerap menjadi pusat aktivitas jamaah. Anak-anak bermain sambil menunggu orang tua salat, remaja berkumpul, hingga keluarga bercengkerama.
Di momen tertentu, halaman masjid juga digunakan untuk kegiatan sosial dan keagamaan. Payung raksasa memberi nuansa teduh dan hangat.
“Kalau ada pengajian akbar atau buka bersama, suasananya terasa meriah di bawah payung-payung ini,” ujar pengurus masjid.
Daya Tarik Wisata Religi
Bagi wisatawan religi, payung raksasa menjadi alasan utama berkunjung. Tidak sedikit rombongan dari luar kota yang sengaja datang untuk merasakan atmosfer “Nabawi kecil” di Blitar.
Biro perjalanan wisata religi bahkan mulai memasukkan Masjid Ar-Rahman sebagai destinasi wajib. Kehadiran payung membuat masjid semakin fotogenik dan populer.
Dampak Ekonomi bagi Warga Sekitar
Ramainya pengunjung yang tertarik dengan payung raksasa berdampak pada ekonomi warga sekitar. Pedagang kaki lima dan UMKM semakin hidup.
Selain itu, area sekitar masjid menjadi ramai oleh wisatawan yang membeli oleh-oleh atau sekadar jajanan khas Blitar.
“Alhamdulillah, jualan saya jadi laris sejak ada masjid ini. Orang-orang banyak yang mampir setelah foto-foto,” ungkap salah satu pedagang.
Ikon Baru Kota Blitar
Dengan keindahan payung raksasa, Masjid Ar-Rahman semakin kokoh sebagai ikon baru Kota Blitar. Tidak hanya dikenal karena kiswah asli Ka’bah, tapi juga karena halaman megah yang memanjakan mata.
Bagi jamaah, payung bukan sekadar pelindung dari cuaca, tapi juga simbol keramahtamahan dan kenyamanan. Bagi wisatawan, payung menjadi alasan untuk datang kembali.
Tidak heran, Masjid Ar-Rahman kini disebut-sebut sebagai salah satu masjid terindah di Jawa Timur.
Editor : Anggi Septian A.P.