BLITAR-Pengalaman merantau kerap menjadi titik balik bagi banyak orang. Hal itu pula yang dirasakan Lavina Sabila, perempuan asal Aceh yang perjalanan hidupnya berubah drastis setelah meninggalkan tanah kelahiran.
Melalui pengalaman merantau, Lavina tidak hanya belajar soal kemandirian. Ia juga ditempa dalam hal menjaga faith, mengasah life skill, hingga menghadapi realitas menjadi minoritas di negeri orang. Semua itu kemudian membentuk dirinya sebagai pribadi yang lebih kuat dan penuh keyakinan.
Bagi Lavina, merantau bukan sekadar pindah tempat tinggal. Ini adalah perjalanan spiritual, sosial, sekaligus intelektual yang memberikan pelajaran berharga untuk masa depan.
Awal Perjalanan Merantau
Lavina pertama kali merasakan merantau ketika mendapat kesempatan pendidikan di luar negeri. Saat itu, ia harus meninggalkan keluarga dan kenyamanan rumah. Lithuania menjadi salah satu tempat yang pernah ditinggali, sebelum akhirnya ia melanjutkan perjalanan di Jakarta.
Pengalaman tersebut membuatnya benar-benar berada di luar zona nyaman. Ia harus belajar menata hidup sendiri, mulai dari hal-hal kecil seperti memasak, mengatur keuangan, hingga menghadapi perbedaan budaya yang begitu mencolok.
“Merantau itu mengajarkan banyak hal. Saya belajar life skill, bagaimana mengatur waktu, mengendalikan emosi, dan beradaptasi di lingkungan yang benar-benar berbeda,” ungkapnya dalam sebuah kesempatan.
Menjaga Faith di Tengah Perbedaan
Salah satu tantangan terbesar yang dirasakan Lavina adalah menjaga faith atau keimanan ketika berada di negeri yang berbeda budaya dan keyakinan. Menjadi minoritas bukanlah hal mudah. Ia kerap harus menghadapi pertanyaan, stereotip, bahkan rasa sepi karena tidak banyak teman yang memiliki keyakinan sama.
Namun, justru dari situ ia menemukan makna mendalam. Menjadi minoritas membuatnya lebih sadar akan pentingnya menjaga identitas dan keyakinan. Baginya, iman bukan hanya soal ritual, tetapi juga bagaimana bersikap, menghargai orang lain, dan tetap konsisten dengan nilai-nilai yang diyakini.
“Ketika di rumah sendiri, kita mungkin tidak merasa berbeda. Tapi saat jadi minoritas, justru itu jadi pengingat agar kita lebih teguh pada prinsip,” ujar Lavina.
Baca Juga: Langkah Self Healing Ala Stoik, Cara Praktis Menyembuhkan Luka Batin yang Menghantui
Life Skill yang Tak Diajarkan di Sekolah
Selain menjaga faith, pengalaman merantau juga membekali Lavina dengan life skill yang tidak didapat dari bangku sekolah. Bagaimana mengurus diri sendiri, bertahan dalam keterbatasan, hingga mencari solusi ketika menghadapi masalah.
Ia pernah mengalami kesulitan keuangan saat awal merantau. Alih-alih menyerah, ia mencari cara untuk bertahan, termasuk mengambil pekerjaan paruh waktu. Dari situ, ia belajar menghargai setiap rupiah hasil jerih payah sendiri.
Kemampuan bertahan ini kelak menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya. Baginya, life skill bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga mentalitas tangguh yang siap menghadapi segala kemungkinan.
Jadi Minoritas, Jadi Kuat
Pengalaman menjadi minoritas di Lithuania benar-benar membentuk karakter Lavina. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa tidak semua orang memahami latar belakang dan keyakinannya.
Namun alih-alih merasa terpinggirkan, ia justru mengambil sisi positif. Menjadi minoritas membuatnya lebih terbuka pada keberagaman, lebih toleran, dan lebih mampu menghargai perbedaan.
“Rasanya memang tidak mudah, tapi pengalaman itu mengajarkan saya banyak hal. Bahwa kita bisa tetap berdiri tegak meski berbeda, dan bahwa perbedaan tidak seharusnya jadi penghalang,” jelasnya.
Kembali ke Tanah Air dengan Cara Pandang Baru
Setelah melewati berbagai pengalaman merantau, Lavina kembali ke Indonesia dengan perspektif yang lebih luas. Ia lebih menghargai keberagaman dan lebih siap menghadapi tantangan hidup.
Pengalaman di luar negeri juga membuatnya semakin peka terhadap isu-isu kesetaraan, pemberdayaan, dan peran perempuan di masyarakat. Ia menyadari bahwa banyak perempuan di tanah air yang belum memiliki kesempatan seluas dirinya.
“Merantau mengajarkan saya bahwa mimpi itu harus diperjuangkan. Dan perempuan Indonesia harus percaya bahwa mereka mampu, meski jalannya tidak selalu mudah,” katanya.
Baca Juga: Disbudpar Kota Blitar Siap Evaluasi Kesalahan Teknis-Nonteknis pada BEN Carnival 2025
Inspirasi untuk Generasi Muda
Kisah Lavina menjadi inspirasi bagi banyak anak muda, khususnya perempuan, yang ingin merantau untuk menuntut ilmu atau mencari pengalaman. Ia menekankan bahwa merantau bukan berarti meninggalkan identitas, tetapi justru memperkuat jati diri.
Dengan pengalaman itu, ia ingin mendorong generasi muda agar tidak takut mencoba hal baru, keluar dari zona nyaman, dan berani menghadapi tantangan. “Kalau kita tidak pernah keluar dari zona nyaman, kita tidak akan tahu seberapa besar potensi kita,” tegasnya.
Kesimpulan
Merantau telah menjadi perjalanan penting dalam hidup Lavina Sabila. Dari Lithuania hingga Jakarta, ia belajar tentang faith, life skill, dan arti menjadi minoritas. Semua pengalaman itu menjadikannya pribadi yang lebih matang, kuat, dan penuh semangat untuk terus berkarya.
Pengalaman Lavina menunjukkan bahwa merantau bukan sekadar soal fisik berpindah tempat, melainkan juga perjalanan batin yang menempa seseorang. Bagi generasi muda, kisah ini menjadi pengingat bahwa tantangan bisa diubah menjadi kekuatan, dan perbedaan bisa menjadi guru yang terbaik.
Editor : Anggi Septian A.P.