BLITAR – Rumah rimbun di Cirebon karya Studio Nadi menonjol dengan penggunaan material lokal. Hunian tropis ini tidak hanya menghadirkan kenyamanan, tetapi juga menunjukkan bagaimana bahan bangunan dari sekitar bisa menjadi elemen berkelas. Konsep inilah yang membuat rumah rimbun berbeda dari hunian modern kebanyakan.
Arsitek Nando, pendiri Studio Nadi, menjelaskan bahwa pemakaian material lokal adalah bagian dari filosofi keberlanjutan. Rumah rimbun di Cirebon ini dibangun menggunakan kayu, batu alam, dan bata ekspos. Semua bahan itu mudah didapat di daerah setempat, sehingga mengurangi biaya transportasi sekaligus jejak karbon.
“Material lokal punya kelebihan tersendiri. Selain ramah lingkungan, mereka juga membawa karakter khas yang sulit tergantikan. Itulah yang kami tonjolkan dalam rumah ini,” ujar Nando. Prinsip ini menjadikan rumah rimbun lebih dekat dengan identitas Nusantara.
Kayu dipakai pada elemen pintu, jendela, serta furnitur utama. Material ini menghadirkan kehangatan dan kesan alami. Sementara batu alam dimanfaatkan pada lantai maupun dinding untuk memberi tekstur yang kokoh. Bata ekspos, dengan warna merahnya yang khas, menjadi aksen yang membuat ruangan terasa hidup.
Pemilihan material tersebut tidak hanya untuk estetika, tetapi juga fungsional. Kayu membantu menjaga suhu ruang tetap stabil, sementara batu alam memberi kesejukan alami. Bata ekspos pun memiliki pori-pori yang memungkinkan dinding “bernapas”, sehingga sirkulasi udara lebih baik.
Menurut Nando, pemakaian material lokal juga mendukung ekonomi masyarakat sekitar. Para pengrajin dan pemasok bahan ikut terlibat dalam pembangunan rumah rimbun ini. “Kami ingin arsitektur tidak hanya indah, tapi juga membawa manfaat sosial,” tambahnya.
Keunikan material lokal makin menonjol karena dipadukan dengan desain tropis. Bukaan lebar, ventilasi silang, serta taman hijau memperkuat peran material alami. Hasilnya adalah hunian yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga nyaman ditinggali.
Rumah rimbun Cirebon pun membuktikan bahwa keberlanjutan tidak selalu mahal. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar, biaya pembangunan bisa ditekan. Pada saat yang sama, kualitas hunian tetap tinggi dan bahkan memiliki nilai estetika lebih.
Studio Nadi menilai, tren pemakaian material lokal perlu diperkuat di Indonesia. Di tengah gempuran material impor, arsitektur Nusantara bisa tetap eksis dengan mengoptimalkan potensi daerah. “Kalau kita kembali pada kekayaan lokal, arsitektur kita akan punya ciri khas yang kuat,” kata Nando.
Penggunaan material lokal dalam rumah rimbun juga mendapat apresiasi dari banyak kalangan. Para arsitek menilai langkah ini sebagai strategi tepat untuk mewujudkan bangunan berkelanjutan. Sementara masyarakat menilai rumah terlihat lebih natural dan membumi.
Material lokal ternyata juga mampu menyatu dengan vegetasi hijau yang ada di rumah ini. Kombinasi kayu dengan pepohonan rindang menciptakan nuansa tropis yang teduh. Batu alam yang berpadu dengan taman menghadirkan kesan alami yang kuat. Semua elemen terasa harmonis.
Lebih jauh, material lokal juga mendukung konsep hemat energi. Kayu dan batu mampu menjaga kelembapan, sehingga rumah tetap nyaman tanpa pendingin buatan. Dengan begitu, konsumsi listrik bisa ditekan dan biaya operasional rumah lebih efisien.
Bagi Nando, rumah rimbun ini menjadi contoh bahwa arsitektur berkelanjutan bisa diwujudkan tanpa harus meninggalkan kearifan lokal. Ia berharap masyarakat lebih percaya diri menggunakan material daerahnya masing-masing. “Setiap tempat punya ciri khas sendiri, itu yang seharusnya ditonjolkan,” jelasnya.
Di Cirebon sendiri, rumah rimbun ini kini jadi perhatian publik. Banyak orang yang datang sekadar melihat langsung bagaimana material lokal bisa tampil elegan. Hunian ini pun dianggap sebagai inspirasi baru untuk desain rumah di kawasan perkotaan.
Dengan material lokal yang menyatu dengan konsep tropis, rumah rimbun karya Studio Nadi menunjukkan masa depan arsitektur Indonesia. Hunian ini bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga simbol keberlanjutan dan identitas budaya yang patut dilestarikan.
Editor : Anggi Septian A.P.