BLITAR – Dalam kehidupan modern, uang kerap dianggap sebagai kunci utama untuk bertahan hidup. Namun, Yosofam Klaten menghadirkan perspektif berbeda: hidup tanpa uang ternyata bisa dijalani dengan mengandalkan sumber daya yang tersedia di sekitar rumah.
Dengan konsep homestead, keluarga ini membuktikan bahwa keamanan hidup bukan ditentukan oleh jumlah tabungan, melainkan oleh ketersediaan pangan, energi, dan sistem yang berkelanjutan.
Yosofam Klaten mengembangkan kebun produktif yang menyediakan hampir semua kebutuhan dapur. Mulai dari sayuran hijau, cabai, tomat, hingga berbagai tanaman herbal, semua ditanam di pekarangan rumah.
Tidak hanya itu, mereka juga memelihara ikan di kolam bioflok, ayam kampung dalam kandang ramah lingkungan, serta membudidayakan jamur. Seluruh sistem ini saling terhubung sehingga membentuk ekosistem mandiri yang efisien dan minim limbah.
Konsep hidup tanpa uang bukan berarti benar-benar meniadakan uang dari kehidupan, melainkan meminimalkan ketergantungan pada pasar. Dengan cara ini, keluarga bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus selalu membeli.
Limbah dapur tidak terbuang sia-sia, tetapi digunakan kembali untuk memberi makan ayam atau diolah menjadi kompos. Dari ayam, mereka mendapatkan telur dan pupuk organik. Dari kolam ikan, selain protein hewani, air yang kaya nutrisi juga bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman.
Selain kebutuhan pangan, Yosofam Klaten juga memikirkan aspek keberlanjutan energi. Mereka mulai bereksperimen dengan panel surya untuk mengurangi ketergantungan listrik PLN.
Dengan begitu, bukan hanya perut yang aman, tetapi juga energi untuk aktivitas sehari-hari. Filosofi yang mereka pegang sederhana: uang bisa habis, tetapi sumber daya yang dikelola dengan baik akan terus memberi.
Kehidupan mandiri seperti ini menjadi inspirasi bagi banyak keluarga muda. Yosofam Klaten menegaskan bahwa kebahagiaan dan rasa aman bukan soal angka di rekening, melainkan soal kepastian bisa makan, bisa hidup sehat, dan bisa mengelola sumber daya yang ada. Dengan semangat gotong royong, keluarga ini berhasil menciptakan ekosistem swasembada yang layak dicontoh di tengah krisis pangan dan energi global.
Editor : Anggi Septian A.P.