Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kripik Tempe khas Warga Srengat Blitar Bikin Nagih

M. Subchan Abdullah • Senin, 8 September 2025 | 18:40 WIB

Purwanti, Pengusaha Keripik Tempe Srengat Tak Sekadar Jual Rasa, tapi Berani Adu Kualitas
Purwanti, Pengusaha Keripik Tempe Srengat Tak Sekadar Jual Rasa, tapi Berani Adu Kualitas

BLITAR - Purwanti, seorang ibu rumah tangga sekaligus seorang pengusaha keripik tempe dari Srengat.

Ketekunannya telah melahirkan usaha yang tidak hanya menghidupi keluarga, tapi juga bisa menjadi harapan dari hal yang paling sederhana.

Yakni dari keripik tempe yang sederhana.

Di sela jeda produksi, Purwanti yang seorang ibu rumah tangga akhirnya membuktikan bahwa usaha kecil bisa tumbuh besar jika dijalani dengan tekun.

Sejak 2018, dia merintis usaha keripik tempe setelah terinspirasi dari produksi keripik tempe milik adiknya di Solo. Awalnya hanya iseng mencoba menjual secara online dengan harga Rp 5.000 per bungkus, tapi ternyata respons pasar sangat positif.

Tak butuh waktu lama, produk Purwanti dilirik desa dan dijadikan produk unggulan saat lomba desa.

Dukungan dari desa membuatnya termotivasi untuk membuat merek sendiri, ditambah bantuan mahasiswa KKN untuk pengurusan izin usaha. Sejak saat itu, pesanan mengalir, terutama ketika Lebaran. Dia juga sempat menitipkan produknya di toko-toko sekitar.

Pandemi Covid-19 menjadi ujian usahanya. Permintaan turun drastis sehingga Purwanti tidak lagi menitipkan ke toko. Meski begitu, para tetangga dan pelanggan setianya tetap mencari produknya karena rasanya yang khas dan berkualitas.

“Keripik saya harus dari tempe yang padat, takaran bahan tidak pernah saya kurangi, dan harus benar-benar kering agar tidak berminyak,” jelas ibu dua anak ini.

Inovasi juga dilakukan dengan menghadirkan berbagai varian rasa, mulai dari balado, jagung bakar, hingga pedas. Bahkan, sebelum pandemi, produknya sempat menembus pasar internasional ke Taiwan dan Thailand.

“Pernah ada pesanan sekali kirim sampai Rp 10 juta,” kenangnya bangga.

Saat ini, produksi hanya dilakukan jika ada pesanan dengan tenaga kerja dari anggota keluarga. Proses pemotongan tempe pun dilakukan secara khusus agar berbeda dan lebih menarik.

Purwanti mengandalkan Facebook, WhatsApp, hingga mulut ke mulut.

“Strategi bersaing tetap ada, makanya saya mempertahankan kualitas, menjaga takaran, serta memperbaiki kemasan dengan ziplock agar lebih simpel jika dibawa ke mana-mana,” ujarnya.

Meski usahanya belum berkembang pesat karena keterbatasan modal dan peralatan, Purwanti tetap bersyukur karena usahanya bisa bertahan.

“Semoga ke depannya usaha saya bisa semakin berkembang, punya alat lebih lengkap, dan pasar lebih luas,” harap ibu 40 tahun ini. (mg5/c1/ady) (*)

Photo
Photo
Editor : M. Subchan Abdullah
#bikin nagih #blitar #srengat #khas #kripik tempe