BLITAR - Warung Mbok Sini yang terletak di Desa/Kecamatan Selopuro sudah hadir lebih dari 40 tahun.
Ayam lodho pedas dan sambel goreng jeroan menjadi menu andalan warung legendaris ini.
Dikenal karena cita rasa masakan yang khas, warung ini menjadi destinasi kuliner yang dikunjungi pelanggan dari berbagai daerah.
Warung sederhana ini terletak di sebuah gang sempit di Desa/Kecamatan Selopuro di Kabupaten Blitar.
Warung legendaris yang sudah hadir sejak tahun 1985, ini bernama Warung Mbok Sini. Warung ini dijadikan jujukan bagi pecinta kuliner tradisional karena sajian khasnya ayam lodho pedas dan sambel goreng jeroan yang mempertahankan cita rasa auntentik khas masakan pedesaan.
Warung Mbok Sini, buka setiap hari sejak pukul 06.00 WIB hingga semua menu habis, biasanya sekitar pukul 12.00 WIB.
Dari 2021 hingga kini, warung Mbok Sini dikelola oleh generasi kedua yaitu Budiono, sang anak beserta istrinya, tanpa ada karyawan.
“Mbok Sini itu nama ibu saya, dari dulu memang sudah berjualan. Saya tinggal melanjutkan resep yang ibu saya tinggalkan,” ungkap Budiono saat ditemui diwarungnya.
Dulu banyak varian lauk yang bisa dipilih, namun karena usia yang tak lagi muda, Budiono hanya fokus pada dua menu yang menjadi andalan. Selain dua menunya yang menggugah selera.
Konsep yang disajikan warung ini berbeda dari yang lain, yaitu prasmanan dengan konsep open kitchen yang mana pelanggan langsung dipersilahkan masuk ke dapur atau pawon (Bahasa Jawa), jadi nuansa yang diberikan benar-benar seperti makan di rumah sendiri.
Proses memasak yang dilakukan di warung ini masih mempertahankan teknik tradisional, mulai dari pengolahan bumbu secara manual hingga memasak yang masih menggunakan tungku kayu bakar.
Baca Juga: Manajemen Jawa Pos Radar Blitar Berkunjung ke Unisba, Ini Misinya
Bagi Budiono, cara inilah yang menjaga rasa tetap autentik dari dulu hingga kini. Dalam sekali memasak Budiono bisa menghabiskan sekitar lima hingga enam ekor ayam, dan enam sampai tujuh kilogram jeroan.
“Biasanya saya pakai ayam kampung untuk masakan ayam lodho, tapi biasanya juga ayam sayur,” ucapnya.
Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, yakni berkisar Rp 12 ribu per porsi atau Rp 20 ribu bila pelanggan memilih kedua menu sekaligus.
“Konsep warungnya unik serasa makan di rumah nenek. Rasa masakannya enak dan bisa ambil porsi sepuasnya dengan harga yang ramah dikantong,” ujar salah satu pelanggan, Ahmad yang baru pertama kali menikmati kuliner Mbok Sini.
Menariknya, pelanggan yang datang kesini tidak hanya warga lokal, melainkan juga banyak dari luar daerah seperti Malang hingga Surabaya.
“Mereka bilang rasa ayam lodho yang saya sajikan berbeda dengan ayam lodho Tulugangung ataupun Trenggalek. Rasanya khas, beda dari yang lain,” jelas Budiono.
Budiono juga menyediakan sistem pemesanan, bagi pelanggannya yang menginginkan. Meski usianya tak lagi muda, Budiono belum berniat untuk mewariskan usaha ini karena khawatir cita rasa masakan yang disajikan tak lagi sama.
”Anak saya itu bisa memasak, tapi rasanya tetap bakalan berbeda dengan masakan yang langsung saya pegang,” tuturnya.
Suasana warung Mbok Sini terasa hangat dan akrab dengan konsep open kitchen yang ada, menambah kesan bagai makan di rumah sendiri.
Di balik gang sempit itu, warung Mbok Sini bukan hanya sekedar tempat makan, melainkan bagian dari sejarah kuliner Blitar.
Sebuah bukti bahwasanya cita rasa tradisional tetap punya tempat di hati masyarakat saat ini.
Bagi siapapun yang sedang berada di Blitar, sempatkan mampir di warung Mbok Sini yang berada di Desa/Kecamatan Selopuro. Kuliner legendaris ini jangan sampai terlewatkan. (*/sub) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah