BLITAR - Wisata Sirah Kencong di Kabupaten Blitar bukan hanya jadi destinasi favorit, tetapi juga membawa berkah ekonomi bagi warga sekitar. Dengan tiket masuk Rp10 ribu, kawasan ini selalu ramai pengunjung dan memberi dampak langsung pada UMKM lokal.
Setiap akhir pekan, ratusan wisatawan datang untuk menikmati suasana kebun teh di kaki Gunung Butak. Ramainya pengunjung membuat pedagang makanan, jasa sewa camping, hingga ojek wisata ikut kecipratan rezeki.
“Alhamdulillah, sejak Sirah Kencong ramai, warung kecil saya sekarang bisa laris. Sebelumnya sepi, sekarang setiap Sabtu-Minggu bisa habis dua kali lipat,” ujar Siti (45), pedagang makanan ringan di area wisata.
Harga Terjangkau, Wisata Ramai
Salah satu alasan Sirah Kencong ramai adalah tiket masuk yang sangat murah, hanya Rp10 ribu per orang. Dengan harga itu, pengunjung sudah bisa menikmati panorama kebun teh, spot foto gratis, hingga jalur pendakian Gunung Butak.
Tak heran, tempat ini jadi pilihan keluarga, rombongan sekolah, hingga komunitas yang ingin liburan hemat tapi tetap berkesan.
Selain tiket murah, ada wahana berbayar seperti Keranjang Sultan Rp25 ribu, glamping Rp400–500 ribu per malam, hingga camping reguler Rp20 ribu. Semua aktivitas itu melibatkan warga sekitar sebagai penyedia jasa maupun pekerja.
UMKM Lokal Ikut Tumbuh
Transformasi Sirah Kencong dari kebun teh menjadi wisata modern membuka peluang besar bagi UMKM. Banyak warga yang membuka usaha kuliner, kafe kecil, hingga jasa fotografi di spot foto.
“Dulu saya hanya bertani, sekarang bisa buka warung kopi di dekat parkiran. Banyak wisatawan yang mampir sebelum pulang,” kata Sutrisno (38), warga sekitar.
Selain kuliner, jasa sewa peralatan camping dan glamping juga dikelola masyarakat. Bahkan, ada kelompok pemuda yang khusus menawarkan jasa pemandu pendakian ke Gunung Butak.
Baca Juga: Viral! Video Masak Soto Ayam Ini Bikin Netizen Ngiler dan Ramai Ditonton di YouTube
Fasilitas Lengkap, Semua Terlibat
Pengelola wisata juga melibatkan warga untuk menjaga kebersihan, mengelola parkir, hingga mengurus musala dan toilet umum. Tarif parkir yang terjangkau, Rp3 ribu untuk motor dan Rp5 ribu untuk mobil, dikelola oleh karang taruna setempat.
Keterlibatan masyarakat ini membuat Sirah Kencong bukan hanya sekadar tempat liburan, tapi juga pusat aktivitas ekonomi desa.
“Konsepnya memang memberdayakan warga. Jadi semua bisa ikut merasakan manfaat dari pariwisata ini,” jelas salah satu pengelola Sirah Kencong.
Daya Tarik Tambahan
Selain kebun teh, Sirah Kencong menghadirkan fasilitas modern yang semakin menarik wisatawan. Ada Sky T Resto yang menyajikan makanan dengan pemandangan kebun teh, spot foto Instagramable, hingga gazebo untuk bersantai.
Keberadaan fasilitas ini membuat wisatawan betah berlama-lama. Semakin lama mereka tinggal, semakin besar pula peluang ekonomi yang dinikmati pedagang dan penyedia jasa.
Efek Media Sosial
Popularitas Sirah Kencong juga tak lepas dari peran media sosial. Foto-foto indah yang diunggah pengunjung membuat tempat ini semakin dikenal. Semakin viral, semakin banyak wisatawan datang, dan otomatis semakin besar dampak ekonomi bagi warga lokal.
Bahkan, beberapa konten kreator sengaja datang untuk membuat video di Keranjang Sultan atau glamping. Kehadiran mereka ikut melambungkan nama Sirah Kencong di luar Blitar.
Dengan segala perkembangan ini, Sirah Kencong menjadi contoh sukses wisata berbasis desa. Tiket murah membuat wisata ramah bagi semua kalangan, sementara fasilitas tambahan membuka ruang usaha baru bagi masyarakat.
“Yang terpenting, wisata ini tetap menjaga kearifan lokal. Kebun teh tetap ada, alam tetap terjaga, tapi masyarakat ikut maju,” kata salah satu tokoh desa.
Kini, Sirah Kencong bukan hanya sekadar destinasi liburan. Ia adalah motor penggerak ekonomi Blitar yang tumbuh dari bawah, membawa manfaat nyata bagi warganya.
Editor : Anggi Septian A.P.