Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ditolak Jadi SPG Karena Pendek, Kini Founder BLP Beauty Pimpin 120 Karyawan!

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Kamis, 11 September 2025 | 00:30 WIB
Ditolak Jadi SPG Karena Pendek, Kini Founder BLP Beauty Pimpin 120 Karyawan!
Ditolak Jadi SPG Karena Pendek, Kini Founder BLP Beauty Pimpin 120 Karyawan!

BLITAR - Menjadi sukses tidak selalu berawal dari jalan yang mulus. Founder BLP Beauty, Lizzie Parra, pernah mengalami pengalaman pahit ketika ditolak menjadi sales promotion girl (SPG) hanya karena tinggi badannya tidak memenuhi syarat. Namun dari penolakan itu, ia belajar bertahan dan kini berhasil memimpin lebih dari 120 karyawan di perusahaan kosmetik miliknya.

Lizzie Parra memulai karier pada 2009 setelah lulus kuliah. Ia bergabung dengan perusahaan multinasional L’Oreal Indonesia sebagai management trainee. Sebagai bagian dari program, ia harus turun langsung ke lapangan untuk merasakan pengalaman menjual produk sebagai SPG.

Namun, kesempatan itu tidak berjalan lancar. Saat hendak ditempatkan di sebuah department store, Lizzie ditolak karena tingginya hanya 152 cm, sementara syarat minimal adalah 155 cm. "Waktu itu aku ditolak masuk Sogo Kelapa Gading, rasanya sedih banget. Akhirnya dipindah ke Seibu Grand Indonesia," kenangnya.

Momen itu menjadi titik balik penting. Lizzie yang awalnya merasa minder, justru belajar memahami kerasnya lapangan. Ia menghadapi senioritas, godaan pelanggan, hingga persaingan antar brand. Semua pengalaman itu menjadi bekal berharga untuk perjalanan karier berikutnya.

Setelah 2,5 tahun di L’Oreal, Lizzie memutuskan keluar. Ia mengikuti panggilan hatinya untuk terjun menjadi makeup artist pada 2011. Keputusan ini tidak mudah. Banyak orang meragukan langkahnya, bahkan perusahaan lama menawarinya sekolah makeup di luar negeri jika bertahan.

Namun, Lizzie memilih jalan berbeda. Bermodal koneksi, portofolio, dan tekad kuat, ia merintis karier dari nol. Perlahan, namanya mulai dikenal di dunia fashion dan media. “Aku waktu itu benar-benar mulai dari bawah, tapi aku percaya makeup bisa jadi jalan aku untuk berkarya lebih luas,” ujarnya.

Namanya kian dikenal setelah aktif berbagi tutorial makeup di YouTube dan blog. Dari situ, ia melihat celah besar di industri kecantikan Indonesia. Saat itu, banyak orang meremehkan produk lokal dan lebih percaya brand internasional.

Situasi itu justru membuat Lizzie semakin yakin. Pada 2016, ia mendirikan BLP Beauty (By Lizzie Parra). Produk pertamanya adalah lipstik, sesuai dengan reputasinya sebagai beauty blogger yang sering melakukan lip swatches.

“Kenapa lipstik? Karena waktu itu orang kalau cari warna lipstik pasti ke YouTube atau blog aku. Jadi aku tahu harus mulai dari situ,” jelas Lizzie.

Kini, setelah hampir satu dekade, BLP Beauty berkembang pesat. Timnya mencapai lebih dari 120 orang, dengan separuhnya berasal dari generasi Z. Mengelola tim besar bukan hal mudah, apalagi dengan karakteristik Gen Z yang unik.

Menurut Lizzie, generasi Z punya kelebihan sekaligus tantangan tersendiri. Mereka cepat belajar, vokal soal kesehatan mental, dan sangat peduli dengan nilai perusahaan. “Kalau mereka merasa align dengan purpose company, mereka akan kasih yang terbaik. Tapi memang butuh kejelasan struktur dan KPI,” terangnya.

Di balik kesuksesannya, Lizzie selalu menekankan pentingnya perencanaan dan keberanian mengambil risiko. Baginya, setiap langkah besar harus disertai persiapan matang, bukan hanya sekadar ikut tren.

Cerita Lizzie Parra menjadi inspirasi banyak orang. Dari ditolak karena fisik, ia membuktikan bahwa kerja keras, keberanian, dan konsistensi bisa mengubah nasib. Kini, ia bukan hanya seorang makeup artist, tetapi juga founder brand lokal yang mampu bersaing dengan produk internasional.

Editor : Anggi Septian A.P.
#BLP Beauty #inspirasi karier anak muda #Lizzie Parra