Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengapa Multitasking Membuat Kita Tidak Produktif? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Rahma Nur Anisa • Jumat, 12 September 2025 | 22:00 WIB

Multitasking menjadi kebiasaan umum. Namun, alih-alih membuat hidup lebih efisien, multitasking justru sering berakhir dengan rasa lelah.
Multitasking menjadi kebiasaan umum. Namun, alih-alih membuat hidup lebih efisien, multitasking justru sering berakhir dengan rasa lelah.

BLITAR KAWENTAR - Banyak orang percaya multitasking adalah kunci produktivitas. Namun, riset justru menunjukkan sebaliknya mengerjakan banyak hal sekaligus bisa memperlambat kerja otak, menurunkan kualitas hasil, dan merusak kesehatan mental.

Multitasking sering dianggap sebagai kemampuan istimewa di era serba cepat. Contohnya, menyusun laporan sambil membalas pesan, atau mendengarkan musik sambil mengerjakan presentasi.

Sekilas, kegiatan ini terlihat efisien. Namun, menurut berbagai penelitian, multitasking sebenarnya bukan berarti melakukan dua pekerjaan bersamaan, melainkan perpindahan fokus yang cepat (shifting focus).

Baca Juga: ⁠Bakesbangpol Kota Blitar Sebut Penyuluhan Bahaya Miras-Narkoba di Kalangan Pelajar Kurang Optimal

Otak manusia tidak didesain untuk menangani dua aktivitas kompleks sekaligus. Saat multitasking, otak bekerja dengan dua mekanisme: shifting goal setting (pergantian fokus dari satu tugas ke tugas lain) dan rule activation (pengecekan daftar aturan kerja dalam otak secara bolak-balik).

Proses ini memakan energi lebih banyak, memperlambat pemrosesan informasi, serta meningkatkan risiko lupa atau membuat kesalahan kecil.

Dampaknya terasa dalam jangka pendek maupun panjang. Jangka pendeknya, pekerjaan menjadi lambat dan mudah salah.

Baca Juga: “Strategi Jitu Lolos SNBP & KIP Kuliah 2025: Jangan Asal Daftar!”

Dalam jangka panjang, multitasking membuat otak lebih cepat lelah, menurunkan konsentrasi, bahkan memicu stres. Tidak heran banyak orang merasa sibuk, tetapi hasil kerja tidak maksimal.

Fenomena ini juga terkait dengan mindset “sibuk berarti produktif”. Banyak pekerja atau mahasiswa menganggap semakin padat aktivitas, semakin bernilai diri mereka.

Padahal, kesibukan tidak selalu berbanding lurus dengan produktivitas. Produktif berarti menyelesaikan tugas dengan hasil nyata, sementara sibuk bisa sekadar menghabiskan energi tanpa capaian yang jelas.

Baca Juga: Wisata Sirah Kencong Blitar Heboh, Glamping Rp500 Ribu Disamakan dengan Hotel Bintang Tiga

Untuk mengurangi dampak multitasking, para ahli menyarankan membangun kebiasaan single-tasking, yaitu fokus pada satu hal hingga selesai sebelum beralih ke aktivitas lain.

Refleksi diri juga penting, apakah kesibukan yang kita jalani benar-benar bermakna atau sekadar ilusi produktivitas?

Multitasking bukan tanda kecerdasan, melainkan jebakan yang memperlambat kita. Dengan memahami cara kerja otak, mengubah mindset sibuk menjadi produktif, serta berlatih fokus pada satu hal, kita bisa bekerja lebih efektif sekaligus menjaga kesehatan mental. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#multitasking #Kinerja Positif #produktif #shifting focus #Serba Cepat