Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dokter Ini Ngaku “Bau” di IGD: Hampir Tiap Hari Dapat Pasien Serangan Jantung!

Axsha Zazhika • Jumat, 12 September 2025 | 23:00 WIB

 

Dokter Ini Ngaku “Bau” di IGD: Hampir Tiap Hari Dapat Pasien Serangan Jantung!
Dokter Ini Ngaku “Bau” di IGD: Hampir Tiap Hari Dapat Pasien Serangan Jantung!

BLITAR – Fenomena unik terjadi di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Seorang dokter muda, dr. Ikhsanuddin Koti, mengaku dirinya termasuk “bau”. Istilah ini digunakan rekan-rekan tenaga kesehatan untuk menyebut dokter yang selalu kebagian banyak kasus berat saat bertugas.

“Setiap kali saya jaga di IGD, pasti ada saja pasien serangan jantung yang datang. Teman-teman bilang saya ‘narik’ pasien,” ujar dr. Ikhsanuddin sambil tertawa saat diwawancarai di kanal YouTube.

Fenomena ini menjadi menarik karena seolah-olah kehadiran dokter tertentu bisa memicu banyaknya kasus gawat darurat yang datang. Padahal, menurutnya, hal itu hanya kebetulan belaka. Namun pengalaman itu membuatnya semakin terbiasa menghadapi situasi kritis.

Dokter lulusan Jakarta ini mengaku pertama kali berjaga di IGD saat menjalani internship. Ia ditugaskan selama enam bulan di rumah sakit sebelum pindah ke puskesmas. Momen pertama jaga IGD membuatnya kaget sekaligus gugup.

“Pas pertama jaga, langsung dapat pasien serangan jantung. Saya sempat panik, tapi harus tetap terlihat tenang di depan pasien,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, pasien serangan jantung biasanya datang dengan keluhan nyeri dada seperti ditekan benda berat. Nyeri tersebut bisa menjalar ke punggung, rahang, hingga tangan kiri. Pemeriksaan awal dilakukan dengan EKG untuk memastikan adanya serangan jantung.

Menurut dr. Ikhsan, serangan jantung dibagi menjadi tiga tingkat keparahan: STEMI (ST Elevation Myocardial Infarction), NSTEMI (Non-STEMI), dan angina pectoris. STEMI adalah yang paling berbahaya karena pembuluh darah jantung tersumbat total.

“Risiko kematian pada STEMI tinggi, jadi penanganan harus cepat. Kadang dalam satu hari saya bisa menerima empat pasien serangan jantung,” katanya.

Fenomena “bau” di IGD ini ternyata bukan hanya mitos. Tenaga kesehatan sering menggunakan istilah “bau” untuk menyebut dokter yang selalu kebagian pasien berat, dan “wangi” untuk yang bertugas saat IGD relatif sepi.

“Pas koas dulu saya termasuk ‘wangi’, jarang dapat kasus berat. Tapi pas internship, kok hampir tiap hari ada pasien serangan jantung. Saya sampai dibilang pembawa kasus,” canda dr. Ikhsan.

Selain serangan jantung, ia juga sering menghadapi pasien stroke dan bahkan kejadian unik seperti pasien yang diduga kesurupan. Ada kalanya keluarga pasien meminta dirinya untuk merukiah.

“Pernah ada pasien tiba-tiba teriak-teriak dan matanya melotot. Keluarganya minta saya rukiah, padahal saya dokter. Ya maksimal saya bacain ayat kursi saja,” ceritanya.

Pengalaman di IGD selama enam bulan membuatnya lebih matang secara mental. Ia belajar untuk tetap tenang meski menghadapi situasi gawat darurat yang bisa menentukan hidup dan mati pasien.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik jika hanya mengalami keluhan ringan seperti asam lambung. Menurutnya, bed di IGD sebaiknya diprioritaskan untuk pasien gawat.

“Kalau cuma asam lambung, coba minum obat dulu di rumah. Tapi kalau ada nyeri dada yang berat, segera ke IGD karena bisa jadi serangan jantung,” pesannya.

Kini dr. Ikhsan bertugas di puskesmas, namun pengalaman di IGD tetap menjadi kenangan berharga baginya. Meski sempat merasa stres, ia bersyukur pernah mendapatkan kesempatan belajar langsung di garis depan penanganan kegawatdaruratan medis.

“Buat saya, itu masa paling melelahkan sekaligus paling berkesan. Rambut rontok sih iya, tapi pengalaman itu bikin saya jadi dokter yang lebih siap,” tutupnya.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#IGD Rumah Sakit #dokter #serangan jantung