Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bersikap Bodo Amat: Belajar Fokus pada Hal yang Penting ala Stoikisme

Rahma Nur Anisa • Sabtu, 13 September 2025 | 01:00 WIB

Dr. Tirta menegaskan, sikap “bodo amat” bisa menjadi solusi agar hidup lebih ringan, hemat, dan sehat secara mental.
Dr. Tirta menegaskan, sikap “bodo amat” bisa menjadi solusi agar hidup lebih ringan, hemat, dan sehat secara mental.

BLITAR KAWENTAR - Fenomena “bodo amat” kerap dipahami keliru sebagai sikap acuh tak acuh terhadap semua hal. Padahal, menurut Dr. Tirta, seni bersikap bodo amat justru sejalan dengan stoikisme: fokus pada hal yang bisa kita kendalikan, sekaligus mengabaikan hal negatif yang menguras energi.

Dr. Tirta mengupas makna sebenarnya dari bersikap “bodo amat”. Ia menegaskan, sikap ini bukan berarti tidak peduli terhadap lingkungan sosial. Misalnya, saat tetangga mengalami musibah, tentu kita tetap wajib membantu.

“Bodo amat” justru berarti tidak memberi ruang pada komentar negatif, persaingan yang tidak sehat, atau standar hidup konsumtif yang menekan diri.

Baca Juga: Ratusan Siswa di Kota Blitar Ikuti Lomba Olahraga Tradisional Peringati Haornas ke-42

Konsep ini memiliki akar pada stoikisme, sebuah filsafat Yunani kuno yang mengajarkan manusia untuk fokus pada hal-hal yang berada dalam kendalinya.

Dalam konteks modern, hal ini bisa berupa, mengabaikan komentar toxic di media sosial dengan fitur blok atau report, menolak gengsi konsumtif, misalnya tidak terburu-buru mengganti gawai hanya demi tren, fokus pada kualitas diri, bukan sekadar kesan sibuk atau citra sosial.

Dr. Tirta mencontohkan, dirinya masih menggunakan iPhone 11 meski timnya sudah memakai seri terbaru. Alasannya sederhana, alat lama masih berfungsi baik, dan uang lebih bijak dipakai untuk kebutuhan produktif seperti investasi usaha atau kesehatan.

Baca Juga: Blitar Photo Camp di Kesambi Tress Park Jadi Motor Promosi Pariwisata Daerah, Seperti Apa Keseruannya?

Selain itu, ia menekankan pentingnya membedakan antara “sibuk” dan “produktif”. Sibuk bisa berarti mengurus banyak hal tanpa hasil jelas, sementara produktif berarti menyelesaikan sesuatu yang bermanfaat.

Dalam hal ini, “bodo amat” berperan sebagai filter agar energi tidak habis untuk hal-hal sia-sia. Seni bersikap bodo amat bukanlah sikap anti-sosial, melainkan keterampilan mengelola energi mental.

Dengan fokus pada hal yang benar-benar penting dan mengabaikan distraksi, seseorang bisa lebih sehat secara mental, lebih produktif, dan tidak mudah terjebak dalam tekanan sosial. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Belajar Fokus #Filsafat #konsumtif #acuh #dr. Tirta #bodo amat #seni bersikap bodo amat #Filsafat Yunani #stoikisme #Gengsi