BLITAR KAWENTAR - Banyak orang terjebak dalam tekanan sosial seperti, harus punya gawai terbaru, kendaraan mewah, atau gaya hidup yang dianggap prestise. Dr. Tirta menegaskan, sikap “bodo amat” bisa menjadi solusi agar hidup lebih ringan, hemat, dan sehat secara mental.
Dalam perbincangan di kanal YouTube, Dr. Tirta mengkritisi budaya konsumtif yang kerap membuat orang terjebak gengsi.
Menurutnya, tidak ada gunanya membeli perangkat atau barang mahal hanya untuk citra, jika fungsi dasarnya bisa dipenuhi oleh barang lama.
Baca Juga: Heboh! Ada Keranjang Sultan di Tengah Kebun Teh Sirah Kencong Blitar, Jadi Spot Selfie Favorit
“Saya masih pakai iPhone 11. Kalau bisa menghasilkan konten berkualitas dengan alat murah, ngapain harus ganti iPhone 15?” ujarnya.
Ia menekankan, sikap bodo amat penting diterapkan terhadap hal-hal eksternal yang tidak berpengaruh langsung pada kualitas hidup.
Namun, hal ini bukan berarti abai terhadap kewajiban sosial. Dalam budaya Jawa, konsep ini sejalan dengan nilai tepo sliro—saling peduli dan menjaga harmoni dengan tetangga.
Baca Juga: Nol Kasus Campak di Kabupaten Blitar, Ini yang Dilakukan Dinkes
Selain soal gaya hidup, Dr. Tirta juga menyoroti pentingnya kesehatan sebagai prioritas. Ia menceritakan pengalaman berhenti merokok dan mengalokasikan uangnya untuk makanan bergizi.
Menurutnya, mengabaikan komentar negatif orang lain lebih bermanfaat daripada mengorbankan kesehatan hanya demi gengsi.
Fenomena “bodo amat” ini juga relevan di era digital, ketika tekanan dari media sosial begitu besar. Fitur blok atau mute bukan sekadar alat teknis, melainkan bentuk kendali atas kesehatan mental.
Dengan begitu, seseorang bisa lebih fokus pada pengembangan diri daripada larut dalam perdebatan tidak produktif.
Kritik Dr. Tirta mengajarkan bahwa “bodo amat” bukan sekadar sikap cuek, melainkan strategi hidup agar tidak terbebani oleh gengsi dan komentar orang lain.
Dengan prinsip ini, hidup bisa dijalani lebih sederhana, hemat, dan bermakna. Sebuah pesan yang relevan di tengah masyarakat yang semakin konsumtif. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah