Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kearifan di Usia Senja: Memahami Siklus Hidup dan Kematian

Rahma Nur Anisa • Sabtu, 13 September 2025 | 21:00 WIB

Menerima kelemahan fisik, menemukan kenikmatan yang lebih dalam, dan berdamai dengan kematian.
Menerima kelemahan fisik, menemukan kenikmatan yang lebih dalam, dan berdamai dengan kematian.

BLITAR KAWENTAR - Usia tua sering kali dipandang sebagai masa penurunan, baik dari segi fisik maupun mental. Namun, Cicero, seorang filsuf Stoik, menawarkan perspektif yang berbeda.

Ia memandang kelemahan fisik di usia tua sebagai hal yang wajar dan alamiah. Alih-alih meratapinya, kita seharusnya menerima penurunan ini sebagai bagian dari hukum alam.

Dengan menurunnya kekuatan, seseorang bisa lebih bijaksana dalam menggunakan sisa tenaganya untuk hal-hal yang pantas dan bermanfaat

Dalam perspektif Cicero, kenikmatan fisik di usia muda, yang seringkali dianggap sebagai tolok ukur kebahagiaan, sebenarnya hanyalah "kenikmatan kecil".

Sebaliknya, usia tua memberikan kesempatan untuk menikmati hal-hal yang lebih substantif, seperti ilmu pengetahuan, pembelajaran, dan refleksi diri.

Kenikmatan ini tidak hanya mendalam, tetapi juga membebaskan jiwa dari ambisi, nafsu, dan perselisihan yang seringkali mengacaukan pikiran di masa muda.

Mengapa sebagian orang tua menjadi pemurung, mudah marah, atau pelit? Cicero menjelaskan bahwa perilaku ini bukan disebabkan oleh usia, melainkan oleh karakter dan ketakutan.

Mereka takut diabaikan, dipandang rendah, atau tidak lagi dianggap penting. Untuk mengatasi ini, baik orang tua maupun muda harus saling memahami, menghargai, dan mendukung.

Orang muda harus berempati pada kondisi psikologis orang tua, sementara orang tua harus tetap bersemangat dan menjaga hak-haknya hingga akhir hayat.

Terkait kematian, Cicero melihat ketakutan akan kematian sebagai hal yang "malang". Ia berargumen, kematian adalah bagian dari lakon kehidupan.

Seorang aktor tidak perlu terus berada di atas panggung, yang terpenting adalah bagaimana ia menampilkan peran terbaiknya selama tampil.

Kematian tidak mengenal usia; siapa pun bisa meninggal kapan saja, entah itu tua atau muda. Oleh karena itu, kita tidak perlu terlalu terbebani oleh bayangan kematian.

 

Sikap terbaik adalah hidup seperti pemanah. Kita mengerahkan seluruh upaya dan fokus untuk melakukan yang terbaik, kemudian setelah itu, kita pasrahkan hasilnya kepada Tuhan.

Ini juga berlaku untuk waktu. Cicero berpesan, waktu hidup mungkin singkat, tapi itu sudah cukup untuk dijalani dengan jujur dan pantas. Justru kesadaran akan keterbatasan waktu seharusnya memotivasi kita untuk melakukan kebaikan sebanyak mungkin.

Cicero juga mengkritik orang yang di fase akhir hidupnya justru semakin sibuk mengumpulkan "barang bawaan" yang tidak bisa dibawa mati.
 
Hal ini ia sebut sebagai hal yang konyol. Sebaliknya, fase ini adalah waktu untuk melepaskan dan menikmati sisa hidup dengan tenang.
 
Menjadi tua adalah sebuah seni. Ini tentang menerima kelemahan fisik, menemukan kenikmatan yang lebih dalam, dan berdamai dengan kematian.
 
Orang tua yang hebat adalah mereka yang menua secara fisik, tetapi tetap memiliki jiwa muda yang penuh semangat. Sebaliknya, orang muda yang bijaksana dan reflektif memiliki unsur tua dalam dirinya. Dengan kombinasi ini, kita bisa menjalani hidup yang lebih harmonis dan bermakna. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah
#siklus kehidupan #fahruddin faiz #Cicero #kematian #usia muda #Masa Muda