BLITAR — Seorang dokter muda sekaligus konten kreator TikTok, dr. Ikhsanuddin Koti, viral usai membagikan curhatan singkatnya setelah menangani pasien serangan jantung pertama kali di IGD rumah sakit di Bangka. Video one-take yang diunggah sebagai "a day in my life" itu langsung mendapat ribuan tanggapan dan mempertemukan dunia medis dengan audiens muda di media sosial.
Sebagai dokter TikTok yang sedang menjalani internship, Ikhsan menceritakan pengalaman emosional itu secara lugas; ia mengaku terpukul namun harus cepat bertindak saat itu juga. "Saya masih bingung waktu itu — baru pertama kali jaga, langsung dapat pasien serangan jantung," kata dr. Ikhsan dalam video yang kini ramai ditonton.
Kisahnya bermula saat penugasan IGD, fase yang menurutnya penuh kejutan dan adrenalin karena pasien datang dalam kondisi kritis. Ia merekam reaksi jujur setelah shift — rekaman yang bukan sekadar curhat, tetapi juga jendela ke realitas kerja dokter di IGD.
Dalam pengamatan dr. Ikhsan, kasus serangan jantung datang dari faktor pola hidup; ada pasien usia 40-an bahkan 20-an dengan obesitas dan diabetes. "Saya sering merasakan harus istighfar dalam hati, tapi tetap harus tenang agar penanganan berjalan cepat," ujarnya.
Dia juga menyebut pernah menerima sampai empat pasien serangan jantung dalam satu hari, sebuah beban kerja yang intens bagi tenaga medis di IGD. Angka itu sekaligus menunjukkan pentingnya peningkatan kesadaran publik terhadap gejala nyeri dada dan tindakan cepat.
Video dr. Ikhsan di TikTok tidak hanya viral karena emosinya, melainkan juga karena konten edukatif yang disisipkan. Ia menjelaskan ciri-ciri serangan jantung: nyeri dada seperti ditekan benda berat, menjalar ke punggung atau lengan kiri, dan rasa sesak yang tidak hilang setelah istirahat.
Selain itu, dr. Ikhsan menekankan prinsip medis penting: "time is muscle" — semakin cepat penanganan, semakin besar peluang sel otot jantung terselamatkan. Ia mengingatkan bahwa idealnya tindakan reperfusi pada kasus berat harus dilaksanakan secepat mungkin, karena keterlambatan meningkatkan risiko kematian.
Kombinasi peran sebagai dokter dan konten kreator membuat pesan dr. Ikhsan mudah diterima generasi muda yang kerap mengonsumsi informasi lewat TikTok. Namun ia juga memberi catatan etis: berbagi pengalaman harus seimbang dengan menjaga privasi pasien dan profesionalisme medis.
Kini dr. Ikhsan bertugas di puskesmas sambil tetap aktif membuat konten edukasi kesehatan; kehadiran ibu-ibu lokal dalam beberapa videonya menunjukkan dampak positifnya pada komunitas. Kisah viralnya memicu diskusi tentang peran media sosial dalam menyebarkan literasi kesehatan sekaligus mengingatkan publik satu hal sederhana: bila merasakan gejala jantung, segera ke IGD.
Akhirnya, video curhat itu bukan sekadar sensasi; ia membuka ruang edukasi tentang gejala serangan jantung, urgensi penanganan, dan realitas pekerjaan medis yang sering tersembunyi di balik layar. Kepada penonton, dr. Ikhsan berpesan tegas: jangan menunda—segera cari pertolongan medis jika merasakan nyeri dada yang mencurigakan.
Editor : Anggi Septian A.P.