Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Semanggi Surabaya Hampir Punah, Kisah Penjual Tua yang Masih Bertahan

Findika Pratama • Minggu, 14 September 2025 | 22:00 WIB
Semanggi Surabaya Hampir Punah, Kisah Penjual Tua yang Masih Bertahan
Semanggi Surabaya Hampir Punah, Kisah Penjual Tua yang Masih Bertahan

BLITAR - Semanggi Surabaya, makanan khas Jawa Timur, kini semakin sulit ditemui. Hidangan berbahan utama daun semanggi ini disebut-sebut hampir punah.

Meski begitu, sejumlah penjual masih bertahan menjajakan kuliner tradisional ini. Mereka biasanya menjual semanggi secara berkeliling, membawa bakul besar berisi sayuran, bumbu pecel, dan kerupuk kuli.

“Kalau tidak ada yang jualan, siapa lagi yang melestarikan makanan ini? Semanggi sudah jadi bagian hidup saya,” ujar Siti, seorang penjual semanggi yang ditemui di kawasan Wonokromo, Surabaya.

Semanggi Surabaya berbeda dengan pecel pada umumnya. Sayur utamanya berupa daun semanggi yang biasa tumbuh di persawahan. Daun ini kemudian direbus bersama beberapa sayuran tambahan seperti tauge dan kangkung.

Yang membuatnya khas adalah bumbu pecel yang terbuat dari kacang tanah. Berbeda dengan pecel biasa, bumbu semanggi dicampur dengan ubi atau ketela. Inilah yang membuat cita rasa pecel semanggi lebih gurih sekaligus manis.

Hidangan ini biasanya disajikan di atas daun pisang, lalu ditaburi dengan kerupuk kuli atau kerupuk uli yang keras dan gurih. Cara makannya pun unik, pembeli biasanya mematahkan kerupuk untuk dijadikan sendok sekali pakai.

Dulu, semanggi bisa ditemui hampir di setiap sudut Kota Surabaya. Namun kini, penjualnya kian berkurang. Modernisasi, perubahan pola makan, hingga regenerasi pedagang membuat kuliner ini semakin langka.

“Anak muda sekarang lebih suka makanan cepat saji. Jarang yang tertarik jualan semanggi. Padahal rasanya khas dan sehat,” tambah Siti.

Bagi sebagian orang Surabaya, semanggi bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol masa kecil, nostalgia, dan identitas kota. Banyak warga yang merantau ke luar daerah merasa rindu semanggi ketika pulang kampung.

Kondisi ini membuat beberapa komunitas pecinta kuliner berinisiatif mengadakan festival makanan tradisional. Semanggi Surabaya sering menjadi menu utama dalam acara tersebut. Tujuannya jelas, melestarikan warisan kuliner Jawa Timur.

Bahkan beberapa restoran modern kini mencoba mengangkat semanggi dengan tampilan lebih kekinian. Ada yang menyajikan semanggi dalam porsi mini, lengkap dengan kerupuk renyah yang sudah dipatahkan, agar lebih praktis dimakan.

Meski begitu, cita rasa asli semanggi tetap tak tergantikan. Bumbu kacang dengan campuran ketela, daun semanggi rebus, dan kerupuk kuli menjadi kombinasi yang sulit ditiru.

Fenomena semanggi yang hampir punah juga menarik perhatian wisatawan. Banyak turis mancanegara yang penasaran mencicipi semanggi ketika berkunjung ke Surabaya. Namun, mereka sering kesulitan menemukannya karena jumlah pedagang semakin terbatas.

“Kalau ada wisatawan yang cari, saya senang sekali. Artinya makanan ini masih dikenal,” kata Siti sambil tersenyum.

Semanggi Surabaya kini tidak hanya soal rasa, melainkan tentang perjuangan. Para pedagang yang bertahan dianggap sebagai garda terakhir pelestarian kuliner tradisional. Mereka berjuang di tengah persaingan dengan makanan modern dan keterbatasan bahan baku.

Para pemerhati budaya berharap pemerintah daerah lebih serius melestarikan semanggi. Misalnya dengan memberikan dukungan kepada pedagang atau menjadikan semanggi sebagai ikon kuliner kota.

Dengan begitu, semanggi tidak hanya dikenal sebagai makanan kaki lima, tetapi juga sebagai warisan budaya yang patut dibanggakan.

Perdebatan soal kelestarian kuliner tradisional memang tidak pernah habis. Namun semanggi Surabaya membuktikan bahwa makanan sederhana bisa memiliki makna mendalam. Ia bukan sekadar hidangan, melainkan identitas kota yang layak diwariskan.

Editor : Anggi Septian A.P.
#makanan tradisional #kuliner jawa timur #semanggi surabaya