BLITAR - Tahu Tek menjadi salah satu makanan khas Jawa Timur yang populer, terutama di Kota Surabaya. Hidangan sederhana ini ternyata menyimpan fakta unik soal asal-usul namanya.
Nama Tahu Tek disebut berasal dari kebiasaan para pedagang yang berjualan dengan berkeliling. Mereka biasa mengetuk wajan dengan sendok, menghasilkan bunyi khas “tek… tek…” untuk menarik perhatian pembeli.
“Asal nama Tahu Tek itu dari suara wajan yang diketuk. Jadi sebelum ada media promosi, penjual sudah punya cara unik buat memanggil pembeli,” kata seorang konten kreator kuliner yang menjelaskan makanan khas Jatim di YouTube.
Hidangan Tahu Tek sendiri terbuat dari potongan tahu goreng, lontong, kecambah, dan kadang ditambah kentang goreng. Semua bahan kemudian disiram dengan bumbu kacang yang dicampur petis, lalu diberi taburan kerupuk udang renyah di atasnya.
Tahu Tek sering dijajakan pada malam hari. Suasana hangat dan sederhana membuat kuliner ini selalu menjadi pilihan warga Surabaya untuk makan malam. Meski begitu, beberapa penjual juga ada yang membuka lapak di siang hari, menyesuaikan permintaan pelanggan.
Uniknya, Tahu Tek memiliki banyak sebutan lain di berbagai daerah. Ada yang menyebutnya tahu lontong, tahu petis, atau tahu bumbu. Namun sebutan “Tahu Tek” lebih populer dan melekat kuat di Surabaya.
Bagi masyarakat setempat, suara wajan yang diketuk pedagang bukan sekadar tanda jualan, tapi sudah menjadi bagian dari budaya kuliner. Bunyi “tek” itu menimbulkan rasa nostalgia, terutama bagi warga yang pernah tinggal di Surabaya.
“Kalau dengar suara wajan diketuk, rasanya langsung ingat masa kecil. Itu tanda kalau Tahu Tek lewat,” ujar Ahmad, warga Surabaya yang kini merantau di Jakarta.
Tahu Tek juga dikenal sebagai makanan rakyat dengan harga terjangkau. Satu porsi Tahu Tek biasanya bisa dinikmati dengan harga mulai Rp10 ribu hingga Rp15 ribu, tergantung lokasi dan isian tambahan.
Meskipun sederhana, kuliner ini punya cita rasa yang khas. Perpaduan petis udang dengan bumbu kacang menciptakan rasa gurih manis yang unik, berbeda dari bumbu kacang pada makanan lain seperti gado-gado atau ketoprak.
Tak heran jika Tahu Tek kerap menjadi incaran wisatawan yang berkunjung ke Surabaya. Banyak yang penasaran mencicipi makanan dengan nama unik ini langsung dari penjual kaki lima.
Beberapa warung Tahu Tek legendaris bahkan sudah berdiri puluhan tahun. Keberadaan mereka menambah daya tarik kuliner kota. Wisatawan tak hanya datang untuk menikmati rasa, tapi juga untuk merasakan suasana khas berjualan ala Tahu Tek dengan bunyi wajan yang autentik.
Di era modern, sebagian pedagang masih mempertahankan tradisi mengetuk wajan, meski ada juga yang mengganti dengan teriakan khas. Namun, sebutan Tahu Tek tetap melekat kuat hingga sekarang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kuliner tidak hanya soal rasa, tapi juga tentang cerita di baliknya. Asal-usul nama Tahu Tek menjadi bukti bagaimana kebiasaan sederhana bisa melekat kuat dalam identitas makanan.
Hingga kini, Tahu Tek masih menjadi bagian penting dari kuliner Surabaya. Bukan hanya soal kenikmatan rasanya, melainkan juga kisah unik di balik namanya yang membuat makanan ini semakin istimewa.