BLITAR - Warung makan sederhana di pinggir Bendungan Wlingi Raya ini telah menjadi legenda kuliner lokal selama lebih dari setengah abad.
Dari berjualan keliling dengan pikulan bambu pada 1972, warung Mbah Yamah kini bertransformasi menjadi tujuan wisata kuliner yang menyajikan cita rasa autentik dan nostalgia, yang kini diteruskan oleh generasi ketiga.
Warung makan sederhana ini sejak lama menjadi tujuan singgah warga sekitar maupun pelancong.
Aroma masakan tradisional selalu menyambut siapa pun yang datang, seolah membawa kembali pada cita rasa lama yang tak lekang dimakan waktu.
Bukan sekadar tempat makan, warung ini telah menjadi bagian dari cerita panjang desa yang terus hidup hingga kini.
Berdiri sejak 1972, warung ini telah bertahan selama lebih dari lima dekade. Awalnya, Mbah Yamah menjual dagangannya dengan berkeliling desa menggunakan keranjang bambu yang dipikul di punggungnya.
Nasi pecel dan olahan pindang menjadi menu pertama yang ditawarkannya. Kehadiran warung ini tidak lepas dari pembangunan Bendungan Wlingi Raya pada masa itu.
Rumah Mbah Yamah yang sempat tergusur akhirnya mendapat ganti rugi, hingga ia bisa membeli lahan dan mendirikan rumah di sisi selatan bendungan.
Dari situlah, Mbah Yamah membangun warung sederhana yang kemudian bertahan hingga sekarang, meski sempat beberapa kali berpindah lokasi.
Berkat ketekunan dan cita rasa khas yang dipertahankan, usaha ini terus berkembang hingga diteruskan oleh anak dan cucunya.
Kini, setelah 53 tahun berjalan, warung ini memasuki generasi ketiga. Norma, perempuan asal Lingkungan Kebonsari, Kelurahan Jegu, Kecamatan Sutojayan, menjadi salah satu penerus yang menjaga warisan keluarga tersebut.
Menu yang menjadi andalan warung ini yaitu olahan ikan jendil (patin) yang sudah ada sejak generasi sebelumnya dan tetap dipertahankan, dengan tambahan inovasi agar tetap digemari pelanggan.
Jendil inilah yang kemudian menjadi ikon warung ini, dengan resep turun-temurun yang selalu dirindukan pelanggan. Seperti sayur jendil, yaitu ikan jendil yang digoreng kemudian dimasak dengan kuah santan yang kental dengan bumbu kuning khas rumahan.
“Dengan harga Rp 20 ribu pelanggan bisa merasakan berbagai olahan khas warung ini,” jelasnya.
Selain jendil, warung ini juga menyediakan pilihan ikan lain seperti nila dan lele. Berbagai jenis sayur turut melengkapi menu, ditambah tiga pilihan nasi: nasi putih, nasi jagung, dan nasi tiwul. Kehadiran nasi jagung dan tiwul menjadi cara sederhana mengenang masa lalu masyarakat desa.
Dengan sistem prasmanan, pelanggan bisa memilih lauk dan porsi sesuai selera, dengan harga yang terjangkau. Kini, warung ini juga melayani pesanan nasi kotak untuk hajatan dan berbagai acara.
Warung yang buka setiap hari pukul 06.00 hingga 16.00 WIB ini hampir tak pernah sepi pengunjung, terlebih pada musim liburan.
“Karena banyak konten kreator yang sering mampir ke sini dan ikut memviralkan, warung kami jadi semakin dikenal dan didatangi pelanggan dari berbagai daerah,” ujar Norma, ibu dua anak yang kini mengelola warung tersebut.
Bahkan, tak jarang ada pelanggan yang rela berputar-putar mencari lokasi hanya demi menikmati pepes jendil khas warung legendaris ini. Bagi para pelancong yang melintasi kawasan Bendungan Wlingi Raya, rasanya kurang lengkap jika tidak mampir dan merasakan sendiri keautentikan cita rasa Warung Jendil Mbah Yamah.
Warung ini bukan hanya tentang memuaskan rasa lapar, melainkan juga tentang menikmati sepotong sejarah, keramahan, dan warisan kuliner yang telah menghidupi sebuah keluarga selama tiga generasi. (mg5/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah