BLITAR – Kelompok kesenian jaranan Turonggo Suro Melati, Desa Bumiayu, Kecamatan Panggungrejo, terus menjaga eksistensinya dengan mempertahankan tari Pegon sebagai ikon utama. Tarian ini menjadi ciri khas yang membedakan Turonggo Suro Melati dari kelompok jaranan lain di Kabupaten Blitar.
Penanggung jawab kesenian jaranan Turonggo Suro Melati, Bagong menjelaskan, tari Pegon merupakan tarian khas yang menggambarkan tokoh wayang Gatotkaca.
Dalam pertunjukan, penari membawa kuda kepang, tetapi tidak menggunakan pecut. Sebaliknya, atribut Gatotkaca menjadi penanda sekaligus simbol kekuatan. “Tari Pegon sudah jarang ditemui di wilayah Blitar. Karena itu, kami menjadikannya ikon dan ciri khas Turonggo Suro Melati,” ungkapnya.
Selain Pegon, paguyuban juga tetap menampilkan tari Trill, tari Barongan, dan tari Celengan. Namun, Pegon dianggap paling menonjol karena sudah mulai ditinggalkan di banyak daerah.
Jika tari Trill atau Senterewe masih cukup populer, maka Pegon justru semakin langka. Hal ini membuat Turonggo Suro Melati berkomitmen untuk melestarikannya agar tidak hilang ditelan zaman.
Pelestarian ini juga mendapat dukungan dari pemerintah desa sejak 2018. Bahkan pada 2024, pemerintah kabupaten turut memberikan anggaran untuk pengembangan.
Dalam setiap penampilan, tari Pegon selalu disiapkan secara khusus agar tetap menarik disaksikan masyarakat. Tidak hanya sekadar hiburan, kesenian ini juga sarat nilai tradisi. Pada saat-saat tertentu, seperti musim kemarau panjang, masyarakat menggelar jaranan di Punden Kucur dengan harapan segera turun hujan. “Selain hiburan, ada doa dan harapan di balik setiap pertunjukan,” tambah Bagong.
Dengan dukungan generasi muda sebagai penari dan generasi tua sebagai penabuh serta penasihat, Jaranan Turonggo Suro Melati berupaya memastikan tari Pegon tetap hidup.
Bagi masyarakat Desa Bumiayu, mempertahankan Pegon bukan hanya menjaga kesenian, melainkan juga merawat warisan leluhur. (mg4/c1/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah